Thursday, 31 December 2009

Kematian Tak Tergantikan

Tak ada kematian yang membuatku menangis selain dua yang berikut: berpulangnya Bapak di Lombok bertahun silam dan kepergian Ian bulan Juni lalu.

Bagi almarhum Bapak, tangisanku adalah tangisan penyesalan seorang anak yang merasa belum sempat membalas jasa-jasa ayahnya. Aku ingat pada malam meninggalnya Bapak, aku yang tinggal di Jogja waktu itu tak bisa tidur. Semacam ada firasat akan terjadi sesuatu yang aku tidak tahu. Aku gelisah. Hampir tengah malam ketika kabar itu tiba. Aku tak serta merta menangis saat pamanku menyampaikan berita lewat telepon. Begitu pembicaraan telepon berakhir, air mataku bagaikan aliran bendungan ambrol.

Kepergian Ian, anakku ketiga, bayi laki-laki mungil yang lahir prematur, menyisakan tangisan pedih yang dalam. Kami, aku dan istriku, diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk merawatnya 33 hari. Bagi Ian juga tangisan terpanjang: selama lebih sebulan semasa perawatan intensif di rumah sakit, dan beberapa bulan setelah semua usaha medis dan doa berakhir di pemakaman dekat rumah kami di Depok.

Itulah dua peristiwa kematian yang terasa bagai kepedihan tak terperi. Setelah itu, hanya kematian Chryse - sang penyanyi dengan vokal 'a' tak ada duanya - yang mampu membuatku menitikkan air mata lagi. Aku menangisi kepergian seorang jenius pencipta dan pelantun lagu yang bernyanyi selalu dengan sepenuh jiwa. Penyanyi yang tak bermodal jiwa pasti tak akan bertahan lama dalam ingatan penggemar.

Hari ini, adalah kepergian Gus Dur yang membuatku menangis. Seorang panutan yang kata-katanya layak didengar telah berpulang. Aku kenal Gus Dur hanya lewat satu dua tulisan di koran, juga beberapa buku dan tulisan di internet. Selebihnya aku 'dekat' dengan Gus Dur hanya lewat acara Kongkow Bareng Gus Dus yang saban Sabtu disiarkan radio KBR68H. Kedekatan fisik dengan Gus Dur, sebuah kedekatan yang akan aku kenang dan banggakan sampai kapanpun adalah ketika berada berjarak hanya 3 meter dari tempat almarhum duduk, di aula Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, bertahun-tahun lalu jauh sebelum almarhum menjadi Presiden. Waktu itu, aku diajak teman untuk 'nonton' Gus Dur. Almarhum ditemani Bu Sinta Nuriyah dan Pak Alwi Shihab. Yang paling terasa saat itu adalah kebersahajaan almarhum.

Setelah hari ini, serasa tak ada lagi sosok yang memiliki keihklasan seluas langit untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Mungkin tak kan ada lagi yang bisa menjadi panutan. Tak ada lagi yang layak didengar. Kepergian Gus Dur berarti kepergian tempat mengadu, hilangnya tempat berbicara, tak ada lagi tempat berharap.

Setelah hari ini, mungkin air mataku akan bertitik lagi bila Iwan Fals nantinya dipanggil Yang Kuasa. (Semoga jangan dulu). Iwan Fals, penyanyi yang lewat lagu Oemar Bakri membuka jiwaku tentang mulia dan susahnya profesi seorang guru, yang membuatku sadar banyak masalah sosial di sekitar kita yang harus diperbaiki, setidaknya untuk dipedulikan. Penyanyi yang suaranya mewakili teriakan jiwa anak bangsa yang berharap Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi semua.

Kematian orang-orang tak tergantikan selalu akan mendatangkan kepedihan dan keharuan mendalam. Bapak, Ian, Chryse, Gus Dur, dan Iwan Fals adalah orang-orang tak tergantikan dalam jiwaku. Hidup dan matinya mereka adalah penyebab warna bagi jiwaku.

Gurita Cikeas dan Gelandangan Lapar

Seorang teman mengucapkan terimakasih aku kirimi file PDF buku pra-cetak Gurita Cikeas (GC) seraya mengatakan “Tulisan GJA [George Junus Aditjondro] yang menarik ini enak untuk dibaca menjelang tidur……. Dongeng pengantar tidur…… dongeng tentang “katanya” Selamat menikmati. Dibaca sambil mendengarkan langgam jawa atau campur sari. Enak tenan ….

Sejak buku GC diluncurkan, pemirsa televisi dan pendengar radio disuguhi acara diskusi serius, debat panas, ataupun perbincangan ringan seputar buku tersebut. Di dunia maya, bertebaran tulisan dan komentar panjang pendek mengenainya. Buku yang menyebutkan nama sejumlah pejabat negara dan keluarganya dikaitkan dengan aktifitas mereka dalam berbagai yayasan dan perlunya akuntan publik melakukan audit independen untuk membuktikan dugaan penyalahgunaan dana publik dalam Pemilu 2009 itu memang mengundang komentar beragam.

Terbitnya GC membuat banyak orang berang, namun tak sedikit yang senang. Yang berang terutama dari kalangan yang namanya disebutkan dalam buku. Yang senang didominasi mereka yang menghendaki adanya penyelidikan pemerintah untuk membuktikan apakah buku tersebut memang sekedar dongeng pengantar tidur ataukah merupakan catatan nyata betapa buruknya negara ini dikelola. Sebagian menyarankan buku dilawan buku, data dilawan data. Ada juga yang berpendapat pengadilan merupakan institusi yang paling berhak menentukan siapa yang berbohong.

Tidak ada yang salah dengan kemunculan GC dan beragam komentar setelahnya. Memang begitulah kita manusia. Rambut sama hitam, pikiran belum tentu sama. Biasa saja bukan? Tetapi ada fenomena lain yang patut direnungkan: sebagian masyarakat mengambil sikap tak peduli. Mungkin di benak mereka GC dan komentar yang bermunculan ibarat gonggongan anjing tak bermakna. Biarin saja, ntar reda sendiri kok!

Masya Alloh, aku sendiri ternyata cenderung mengambil sikap terakhir. Kesibukan memikirkan urusan rumah tangga, mengurus anak-anak, atau menikmati ‘blazer solo touring’ ke Jogja, Semarang, dan Surabaya, membuatku memilih untuk tak peduli saja. Ngapain peduli? Paling juga ada gunanya Gak akan merubah keadaan. Toh cuma sebatas peduli?

Tetapi membaca GC membuatku malu sendiri. Dengan bahasa ringan dan mudah dicerna, GJA memaparkan betapa oligarki (GJA menyebutnya gurita) kekuasaan terasa begitu kejam. Penyebutan duit dalam hitungan trilyunan dan milyaran di dalam GC terasa seperti menyebut puluhan atau ratusan ribu saja. Kalau benar dana-dana tersebut dialirkan diantara pihak-pihak yang disebutkan dalam GC dengan cara-cara yang tidak dibenarkan aturan negeri ini, kekejaman itu makin terasa menyakitkan.

Dua hari lalu, belum genap 20 langkah keluar dari gerbang hotel di Jalan Pandanaran Semarang, aku disajikan pemandangan mengenaskan. Seorang laki-laki gelandangan paruh baya berbaju dekil dan sobek-sobek sedang berjongkok di samping bak sampah menyuap nasi sisa bersambal merah dari bungkusan yang nampaknya barusan dia ambil dari dalam bak sampah. Tak kuasa aku memandang sorot mata kosong dan takut-takut ketika ia mendongakkan kepala ke arahku. Dia lapar. Masya Alloh...

Sarapan pagi di Simpang Lima tak terasa nyaman karena pengemis yang hilir mudik. Ibu-ibu tua berpakaian lusuh dengan wajah memelas dan kurang tidur menyodorkan gelas plastik bekas air mineral. Lembaran seribu rupiah adalah penghibur bagi mereka. Di Semarang lebih banyak kakek-kakek becak ketimbang abang-abang becak. Orang-orang yang sudah sepuh terpaksa menggenjot beban berat untuk menyambung hidup. Istilah pensiun di masa tua mungkin tak pernah mampir di benak mereka.

Di dalam buku GC, duit bermilyar-milyar seakan hanya angka. Membuat miris bila berandai-andai duit segitu banyak bisa dipakai untuk bantu gelandangan lapar supaya memperoleh makanan layak. Atau sekedar untuk mengangkat beban berat aki-aki pengayuh becak supaya mereka bisa hidup tak susah di penghujung umur? Ah .. hanya angan. Apatis lagi kah?

Thursday, 17 December 2009

Ifa's Birthday This Year

Today is Ifa's birthday. The 9th. But like last year, she seems to pay almost no attention to what other children of her age would be eager to celebrate. While Aya, her sister, was just cuek aja upon jumping out of her bed this morning, I did manage to give some kisses and whisper "Dad loves you" in Ifa's ears. We don't celebrate birthdays but like to prepare some gifts. This year we haven't had a chance to find some, but we may arrange something this week when Mom is home. Mom works in Semarang and goes home at least twice a month on weekends.

At 4 a.m. Mom sent a text message: "Happy birthday my dear Ifa, my lovely girl. Semoga Ifa selalu sehat, tambah pintar dan tambah baik." Mba Nur, used to be working at home - now already married and lives in Temanggung of Central Java, asked me to extend her wish for Ifa's happiness on this special day. Later, Ifa's Aunt Titia from Surabaya also texted a message, congratulating Ifa and asking Ifa's photo sent via email. She was planning to print a calendar with Ifa's picture on it as a birthday present.

Told about the texts received, Ifa didn't even bother to look up. She preferred keeping herself busy preparing equipments to bring to her whole school camping at Cibubur today. "Hurry, we have to jump on the car!" Then off we go to school at 6.30. The camping was more important!

I remember last year, for Ifa's 8th birthday, we prepared some surprise presents for Ifa. Mom had secretly bought some gifts, got them wrapped beautifully, and labeled our names, Bapak, Ibu, Om Tyo, Mbak Nur, and Aya. We were as eager as Ifa unwrapping the gifts. Ifa was very happy, smiling the whole day. Mom, what about doing the same again? A surprise party plus some gifts? That could be another memorable 'less important' birthday for Ifa!

Wednesday, 16 December 2009

Kangen Ifa dan Aya

Kok tiba-tiba aku kangen anak-anak padahal baru tadi pagi mereka berangkat ke Cibubur ikut camping sekolah dua malam. Aku fikir aku gak akan kangen, tapi tiba-tiba saja perasaan sepi menyerang. Rasanya tak sanggup pisah dengan anak-anak. Hiks.

Ntar sore, gak akan ada pasang telinga alert mendengar mesin mobil jemputan Pak Sam stop di depan rumah tanda anak-anak sudah kembali dari sekolah. Gak akan ada suara assalamualaikum Ifa atau Aya. Gak akan ada yang menggedor pintu depan. Biasanya Aya 'marah-marah' pintu depan aku kunci.

Lalu gak ada harap-harap cemas melihat raut muka Ifa di teras menunggu pintu dibuka. Biasanya kalau kondisinya lagi fit, di sekolah baik-baik saja, di mobil jemputan bercanda riang sesama teman, turun dari mobil dia akan berwajah cerah. Cerah berarti my day will be OK. Kalo sebaliknya, wajah keruh, entah oleh sebab apa, maka aku siap-siap mempertebal lapisan kesabaran menghadapi the rest of the day sebab akan ada acara menolak mandi, menolak sholat ashar, menguasai komputer, lengkap dengan muka cemberut dan bawannya marah-marah mlulu. Kalau gak tertanggulangi, prahara akan berlanjut sampai magrib. Gak mau ganti pakaian, gak mau pipis, gak mau sholat magrib, apalagi ngaji. Pokoknya runyam dech. Hari berakhir dengan prosesi tidur dengan muka tak riang. Hari ini dan besok semua itu tak ada.

Juga tak kan ada kegiatan rutin menjelang tidur. Pipis, ganti pakaian, sikat gigi, dan sholat Isya bila belum. Gak akan ada Ifa yang memarahi Aya karena lelet wudhu tak segera sholat walau sudah lama ambil air wudhu, dll.

Gak ada Aya yang tingkahnya lucu-lucu. Gak ada Aya yang minta gendong dan ditemani pipis, ditemani ambil baju. Aya bilang dia takut sendirian karena masih kebayang cerita serem Ifa tentang kamar gelap atao apa gitu .. ntar ditanyain lagi dech ...

Juga gak ada yang dimasakin. Gak ada yang disuapin. Gak ada yang ditanya apa suka masakan Bapak ato gak? Gak ada yang diajak ngobrol. Gak ada yang digodain. Disuruh minum obat (pada lagi flu dan batuk). Gak ada cerita tentang teman-teman sekolah. Gak ada rencana besok bangun jam berapa. Gak ada obrolan mau jalan lewat mana buat hindari jalan macet karena sedang dicor.

Sore nanti gak ada perintah bawa bebas makan ke dapur, gak ada Aya yang minta ijin maen sepeda bentar, walau belum sholat Ashar. Gak ada Ifa yang bisa dimintai bantuan liatin resep di Google. Gak ada Aya yang mengeluh terpaksa gak maen sama Rifda, khawatir disuruh ikut TPA kalau muncul depan musholla. Gak akan ada krayon dan kertas gambar berserakan. Gak kecemasan melihat gunting tajam menganga di lantai, ditinggal begitu saja gak diberesin Aya sehabis dipakai main.

Gak ada Ifa yang bikin my day cerah kalau tiba-tiba mandi, ganti pakaian tanpa disuruh, keramas tanpa harus dipaksa, sholat dan bimbing Aya yang suka males-malesan kalo ngaji. Gak ada acara nabung di celengan bambu panjang yang kami bikin 3 ruas, satu untuk Bapak, lalu Ifa, dan Aya ruas yang paling bawah.

Gak ada Aya yang suka melarang merokok dan puter lagu dangdut dari radio. Gak ada Ifa yang baik hati ajak Aya main. Gak ada Ifa yang terpaksa distop baca buku karena waktu tidur udah tiba. Gak ada Aya yang minta dikeloni, walau sekarang aku sudah lupa cara ngeloni. Ah .. anak-anak ... bikin kangen aja. Walo tingkah mereka kadang menghabiskan amunisi kesabaran di hati, tetap saja mereka mendatangkan bahagia kalau lagi bersama. Semoga di tempat camping bisa enjoy, sehat, dan pulang dengan hati riang. Besok jam 6 sore Bapak jemput ya.

Keberkahan Camping?

Mobil belum berhenti benar, Syarrifa sudah berteriak. “Paa ... k, mereka pakai seragam outbound. Aku ganti aja ya ...” Dari rumah dia memakai jeans biru dan atasan warna pink. Nampaknya dia tidak mau tampil berbeda dengan teman-temannya. Hari ini, semua anak kelas 1 sampai 6 Sekolah Dasar School of Universe (SoU) Parung akan berangkat ke Bumi Perkemahan Cibubur untuk camping 2 malam.

Aya tak mau ketinggalan. “Tutup pintunya Paa ... k, kita mau ganti!” Begitu pintu mobil ditutup, kedua anak itu tergesa membongkar tas dan melepas pakaian. Mobil kami dilapisi kaca film V-Cool 70%, hampir tak tembus pandang dari luar.

Sementara anak-anak ganti pakaian, aku mengamati situasi. Sudah lewat jam 7 pagi, ada banyak peserta berkumpul di halaman depan SoU. Seorang ibu berjalan di belakang anak lelakinya yang membawa ransel hitam besar. Tanpa diketahui sang anak, si ibu membantu menyangga tas. Tas terlalu besar dan berat untuk anak yang berusia sekitar 7 tahun itu. Si anak, tak mengetahui ‘bantuan’ ibunya, dengan bangga melangkah menuju tempat teman-temannya berkumpul. Tiga bus pariwisata sudah menunggu. Mobil pengantar silih berganti menurunkan penumpang.

Anak-anak sudah selesai. Syarrifa keluar mobil dengan ransel National Geographic di punggung. Hari ini tanggal 16 Desember, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 9. (Ssst ... gak dirayaain .. he he .. nunggu ibunya pulang dari Semarang akhir minggu ini.) Dia berdiri gagah menunggu Aya turun. Berdiri di samping mobil, keduanya nampak gagah dengan pakaian outbound, celana hitam bersaku banyak dengan atasan kaos abu-abu dengan strip keperakan di kedua lengannya yang panjang.

“Pak, bantuin Aya angkat tas,” teriak Aya tanpa menoleh. Aku segera konci pintu mobil dan mengangkat tas mereka. Lumayan berat. Sejak jam 5 sore kemarin, anak-anak sibuk menyiapkan perlengkapan pribadi, pakaian ganti, peralatan mandi, mukena dan sajadah, senter, sandal jepit, jaket, dan jas hujan. Sebagai anggota kelompok, Aya ditugasi membawa lampu badai dan gunting sementara Syarrifa membawa lampu badai saja. Lengkap dengan minyak tanah dan korek api.

Ikut keriuhan persiapan anak-anak camping terasa menyenangkan. Tahun lalu, aku tak tak terlibat karena ada Mba Nur yang dulu kerja di tumah kami. Sejak tidak harus ke kantor Bogor (cukup kerja di rumah saja he he) aku bisa lebih leluasa membantu anak-anak. Karena sepatu boot Aya sudah entah dimana sementara senter sudah rusak, sore kemarin aku mampir ke Pasar Parung berbelanja, sekalian beli slayer, topi, dan sarung tangan buat mereka. Habis banyak! :D Moral of the story, sepulang camping, perlengkapan harus dibersihkan dan disimpan rapi supaya tidak harus beli-beli bila ada acara lagi.

Dua hari ini, 16 dan 17 Desember, rumah bakalan sepi. Aku akan sendirian. Tak ada kehebohan pertengkaran Syarrifa dan Aya tentang karet penggosok atau pensil. Tak ada teriak-teriak suruh sholat dan mandi. Mungkin gak harus masak pula karena buat sendiri cukup mie telor rebus saja. Lumayan gak harus banyak cuci piring dan perlengkapan masak. Semoga rumah tidak ‘sepi’ beneran. Apalagi aku sedang punya banyak PR kantor yang harus segera selesai minggu ini. Camping membawa berkah! Itukah? Mungkin saja. Untuk sementara terbebas dari anak-anak. He he.

Monday, 14 December 2009

Selalu Positif, Tak Ada Kata Menyerah

Kalah atau menang, Rafael Benitez, pelatih Liverpool Football Club (LFC), tidak pernah lupa mengatakan, "Look at the next game. It is the same situation. We have to keep going, try to improve and win our games."

Diam-diam aku menunggu Rafa kepeleset lidah. Aku ikuti laporan post-match conference setiap kali Liverpool selesai bertanding, entah di Liga Eropa maupun liga domestik. Aku panteng Liverpoolfc.tv dan Premierleague.com. Juga BBCsport.com dan SkySports.com. Sebagai manusia biasa, aku yakin Rafa tak lekang dari rasa kecewa, putus asa, atau frustasi. Suatu saat dia pasti menyerah.

Semalam, kekalahan 1-2 dari Arsenal, di kandang sendiri, makin menenggelamkan klub asal kota John Lennon ini di peringkat ke 7 klasemen sementara Liga Inggris. Bertanding 16 kali, Liverpool hanya mampu mengumpulkan 24 poin, terpaut 13 dari penghuni peringkat pertama Chelsea. Dengan prestasi buruk ini, the Reds sudah layak melupakan target juara liga yang sempat didengung-dengungkan saat kompetisi tahun 2008 mendekati akhir, ketika Liverpool sedang on-form dan mampu menutup musim kompetisi di peringkat kedua, target yang nampak realistis sebelum Torres dan Gerrard dibekap cedera awal musim ini. Saat ini target yang ramai dibicarakan adalah posisi 4 klasemen supaya lolos zona piala Champions tahun 2010 nanti.

Merubah atau menurunkan target bukan hal tabu. Mengakui target utama sudah tak mungkin diraih bukan berarti melempar handuk. Penggantian target nampaknya merupakan hal lumrah. Yang tidak biasa adalah menyerah! Setidaknya itu yang aku lihat dari diri seorang Rafa.

Rafa tak pernah menyerah. Terlempar memalukan dari Liga Champions 2009, terseok di posisi ke 7 Liga Inggris, kalah 2 kali berturut-turut di depan pendukung sendiri, gagal meneruskan tradisi clean-sheet, kebobolan di menit-menit terakhir pertanda hilangnya konsentrasi dan kedisiplinan, bagi banyak orang, semua ini mungkin sudah bermakna kibaran bendera putih putih. Sudah saatnya menarik diri. Rafa tidak demikian.

Mengapa Rafa selalu positif? Apakah karena dia sadar media? Apakah karena dia tahu pernyataannya akan dimuat di website resmi klub? Ataukah selaku manajer klub dia harus selalu tampil positif untuk menjaga semangat tim? Aku tak paham. Yang jelas, sikap seperti itulah yang mungkin menjadi kunci 'keberhasilan' Rafa selama ini. Keberhasilan? Ya .. Rafa sukses mengasuh Liverpool selepas pelatih asal Perancis, Gerard Houllier.

Kalau kita simak buku dan tulisan kolumnis Paul Tomkins, pujian terhadap Rafa bukanlah tanpa dasar. Tomkins menyajikan analisa dengan dukungan data yang kuat. Dengan kemampuan uniknya dalam bersilat lidah dan menyusun kata-kata, Tomkins menyimpulkan prestasi Rafa sebenarnya malah jauh lebih baik dibandingkan pelatih Liverpool manapun, juga manajer klub-klub papan atas Liga Premier yang ada saat ini! Nah loh ...

Kalaupun apa yang dikatakan Tomkins benar, aku menduga penyebabnya adalah semangat tak kenal kata menyerah yang selama ini ditunjukkan Rafa. Ujung langit tak terjangkau, masih ada puncak gunung. Kaki terlalu gempor untuk mendaki puncak gunung, masih ada puncak bukit. Puncak bukit masih terasa berat bagi tubuh kurang gizi ini, masih ada atap rumah. Mari kita cari tangga, naik perlahan, menapak dengan waspada. Say no to lempar handuk!


Wednesday, 9 December 2009

Dua Tahun Lalu

Foto ini tertanggal 17 Juli 2007. Lebih 2 tahun lalu. Aku temukan ketika bongkar-bongkar file lama. Dua tahun lebih ternyata tak menghapus apa yang aku rasakan ketika mengambil foto tersebut. Hari pertama Ifa masuk sekolah. Hari pertama masuk SD. Waktu itu aku berguman, tak terasa Ifa sudah usia 7 tahun lebih. Sudah SD. Udah besar anakku.

Hari itu Ifa bangun pagi sekali. Setelah mandi dan sarapan, Ifa menunggu jemputan di teras depan yang dindingnya belum diplester. Ifa mantap ke sekolah sendiri. Gak merasa perlu ditungguin. Ifa sudah besar, Ifa sudah mandiri.

Aya, si adik, ikut-ikutan berpose. Waktu itu dia masih TK. Hari itu menandai 'perpisahan' dengan si kakak. Biasanya pagi-pagi mereka berangkat bersama, ke TK Bintang Kecil Kejora yang dulu ada di jalan Arif Rahman Hakim, Depok (sekarang TK ini sudah tidak ada, mati 'tertimpa' jalan layang). Hari itu, untuk pertama kalinya mereka berangkat dengan tujuan berbeda. Ah ... dua anak kebanggaan orang tua. Semoga kalian tumbuh sehat. Dan bila besar nanti kalian hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain.

Friday, 4 December 2009

Jangan Salahkan Kalau Ibu Ibu Pada Gemuk!

Belum genap 2 minggu, berat badanku udah nambah 2 kilo. Ketika aku ke kantor kemarin, temanku bilang kok pipimu tambah berisi? Bagaimana tidak? Selain bertugas memasak buat makan Ifa (9 tahun) dan Aya (7 tahun), aku juga harus melahap sisa makan mereka yang tak habis. Entah nasinya, lauknya, buah yang tak termakan, sisa jus atau susu. Semuanya. Sayang kalau dilempar ke tong sampah. Bagi yang pernah merasakan susahnya tidak memiliki makanan, pasti akan merasa sayang main buang. Apalagi kalau pernah mendengar hikayat bagaimana si butir nasi menangis karena tidak ikut termakan, “Hiks ... temanku udah masuk perut, aku ketinggalan di piring, sebentar lagi masuk tong sampat, malah masuk perut kucing jahat!” Cerita kucing jahat ada di profile FB-ku, isinya kucing jahaaaaaaaattt pooool!

Aku mendaptkan pencerahan mengenai sebab-musabab tubuh gemuk seorang ibu dari pengalaman sebulan ini mengasuh anak-anak. Setelah memutuskan berhenti kerja full time, aku di rumah saja menemani anak-anak. Awal November lalu, istriku pindah kerja ke Semarang. Karena menjadi bapak rumah tangga (yang tidak mesti berarti kepala rumah tangga) akulah yang bertugas mengurus rumah (memasak, mencuci, sesekali menyapu, tapi tidak setrika). Tetangga sebelah, Bu Husin, datang tiap pagi bantu ngepel dan setrika.

Memasak berarti menghabiskan masakan. Ini benar sekali. Betapa tidak. Kita harus mengeluarkan minimal 50 ribu buat beli sayur harian. Belum lagi melihat isi kulkas terisi belanjaan mingguan, daging, telur, ikan. Bumbu-bumbu juga gak murah loh. Lalu susu dan buah-buahan. Semuanya adalah duit. Ingat! Duit!

Setiap pagi bangun awal. Memasak, siapkan sarapan dan bekal makan siang. Lalu malam juga masak. Dekat dengan kegiatan masak memasak, ada isu mencuci piring sendok kotor dan peralatan masak. Belum lagi sering-sering asah pisau dan buang sampah. Semuanya adalah energi. Ingat! Energi!

Duit dan energi dibuang sia-sia? NO WAY! Begitu barangkali kata ibu-ibu yang kebetulan menjadi ibu rumah tangga. Juga kataku yang sekarang ini jadi bapak rumah tangga. Tak sudi aku buang-buang duit dan energi percuma. Hasil perpaduan duit dan energi berupa makanan tak termakan, pasti aku sikat.

Saat ini aku masih belum pintar menakar seberapa banyak nasi yang dimasak. Seberapa banyak sayur yang dibuat, seberapa banyak ikan dan tempe yang harus digoreng. Kadang berlebihan memang. It is my fault! Hukumannya: jadilah aku si pelahap makanan sisa. Bagaimana tak bertambah berat badan bukan? Bayangkan ibu-ibu melakukan hal yang sama. Lagipula menurut cerita ahli gizi entah dari mana, perempuan lebih mudah gembul ketimbang laki-laki!

Dengan pencerahan ini, aku tak lagi serampangan main tuduh ibu-ibu extra large sebagai biang makan tak dikekang. Sebaliknya bagiku mereka menjelma menjadi tokoh utama yang berjasa besar dalam usaha tak menyia-nyiakan rejeki dari Sang Pemberi Rejeki. Begitu besar jiwa mereka sehingga akan selalu merasa sayang dan tak semena-mena membuat duit dan energi ke tong sampah. Walau at the cost of being an XL mom!

Bayangkan kalau suami-suami mereka tidak makan di rumah. Udah capek-capek siapin makanan, via SMS tadi suami janji mau makan di rumah, lalu sesampai di rumah suami bilang maaf, tadi ditraktir si anu bla bla bla .. apa gak sakit hati tuch si ibu? Udah habisin 100 ribu buat masak bagi suami, gak segera baca buku kesukaan hanya supaya bisa masakin suami, makanan jadi tersia. Dasar suami tak tahu diri! He he he. Mau kasi kucing? Gak lah .. mau kasi tetangga? Memangnya tetangga mau? Wah serba repot dech.

Nah itulah sekelumit rangkuman hasil pengamatan sekilasku tentang mengapa sekian banyak ibu-ibu rumah tangga cenderung memiliki badan gemuk. Apakah anda termasuk dalam kelompok ini? Kalau ya .. no problem .. asal dibantu olah raga malah jadi tambah sehat!

Thursday, 3 December 2009

Kok Lama Gak Posting?

Judul di atas adalah pertanyan Syarrifa, anak pertamaku kelas 3 SD, ketika tahu blog ini udah lama gak terisi postingan baru. Ya.. apa daya, huru-hara fisik dan mental dengan peran baru sebagai 'pekerja domestik (bapak rumah tangga) sekaligus pekerja paruh waktu masih belum bisa aku kuasai dengan baik. Energi masih banyak terporsir untuk merespon segera kejadian di depan mata ketimbang dipakai untuk melakukan refleksi, perenungan untuk bisa menulis sesuatu.

Baru ketik judul tulisan sedikit, sudah dipanggl Aya, anakku kedua kelas 2, minta ditemani pipis di kamar mandi. Baru membaca satu tulisan inspiratif, Syarrifa sudah mengusirku dari depan komputer. "Bapak, mau upload foto nich ... bentaaaaaarrrr aja." Siapa yang tak menyingkir kalau di'usir' dengan mata melotot begitu?

Baru mulai baca buku Major Jantje terbitan Masup Jakarta, istri yang lagi di Semarang telpon menanyakan mengapa duit di rekening berkurang banyak tanpa dia tahu detailnya. Siapa yang bisa tulis detail, 150.000 buat bayar PAM, 211.000 buat Speedy, 100.000 buat pulsa Simpati, 23.000 buat isi bensin moor full tank, 9.000 buat Djarum Super, 73.000 buat beli sayur di si Eko, tukang sayur trendi pakai motor (mahal loh .. dengan duit 100.000 gak dapet banyak!), lalu beli ban bekas buat Blazer, 1 juta 4 biji, kembangannya masih lumayan, dll dll .. ribet kan kalo harus ditulis?.

Begitulah, malam-pun tak bisa buat aktifitas menulis karena biasanya aku turut ketiduran setelah bacain cerita pengantar tidur buat anak-anak. Kalau pas jam 12 malam terbangun, dan gak bisa tidur lagi, gak bakal bisa buka komputer karena sewaktu-waktu Aya manggil .. "Bapaaaaaaaaaaaaaaaaak." Ruang komputer agak jauh dari kamar tidur. Dia suka gak berani kalau ditinggal sendiri di kamar walau ada kakaknya yang lagi tidur (kami bertiga tidur sekamar! he he)

Bangun jam 4 pagi, sholat subuh, ngaji dikit kalo lagi mood, lalu tiba-tiba sudah jam 5, aku segera tergesa masak nasi. Mateng 45 menit pakai magic jar. Di sela itu, aku kumpulin pakaian kotor, masukkan ke mesin cuci, stel otomatis lalu tinggal. Jam 10 nanti, tetangga yang bantuin bersihin rumah akan datang buat njemurin.

Persiapan sarapan. Bikin teri goreng (bisa teri medan atau teri keranjang atau teri segar yang sebelumnya aku masak pakai garam dan asam lalu diangin2kan biar jering) atau nasi goreng aroma mentimun kalau anak-anak gak ngeluh "Bosen Paaaak!"

Kesibukan pagi di dapur juga buat siapin bekal makan siang anak-anak. Mereka pulang sekolah jam 3-an, jadi makan siangnya di sekolah. Bagiku menu makan siang harus beda dengan sarapan, biar anak-anak mau makan. Lalu kupas pisang tanduk, potong dan belah dua, masukkan ke box plastik snack. Tidak lupa sertakan susu coklat kental manis yang dikemas kayak odol. Anak-anak sebut sncak ini piscok - alias pisang coklat., favotie Syarrifa. Aya ikut-ikutan suka, tapi sesekali mengelush bosen. he he he.

Cari kantong plastik (biasanya bekas kantong plastik Indomaret ato Alfamart) untuk bungkus semua bekal. Eits, sendok dan garpu jangan sampai kelewatan. Juga botol minum. Semua dalam satu kantong plastik. Ingat jangan pakai yang hitam karena bau plastiknya gak enak banget. Jebloskan ke dalam tas sekolah anak-anak, beres dech.

Jam 6.30 mobil sudah harus start. Paling telat jam 6.45 sudah harus cabut. Kalo tidak, Syarrifa bisa ngambek. Ngancam gak mau sekolah bikin pusing aku yang lagi sebatang kara (istri kerja dan tinggal di Semarang dan gak ada yang bantu). Biasanya sering telat 5-10 menit karena harus mengunci semua pintu, periksa jendela, dan gerbang belakang sebelum lepas landas menuju sekolah anak-anak di Jalan Parung yang jaraknya kadang lebih dari 45 menit apalagi kalau macet di jalan. Jauh juga ya.

Drop anak-anak sekitar jam 7.45 dan kembali ke rumah, nyampai jam 8.30. Baru kelegaan bisa dinikmati. Kelegaan betul-betul terasa dengan seruputan kopi yang masih hangat dan tak lupa satu dua Djarum Super sebelum mulai buka komputer. Jam 9 sudah harus mulai kerja .. update website kantor dari rumah. Terus sampai siang, sesekali keluar pipis ato bikin kopi ekstra. Siang, jeda makan bentar. Bikin telur ceplok atau goreng teri. Dan kalau mau, ulek sambal bentar. Total gak sampai 10 menit. Yang lama menikmati kekenayngan dengan rokok. he he he. Bisa sampai setengah jam!.

Abis itu lanjut kerja kejar waktu sampai jam 4. Mengapa jam 4? Karena di atas jam 4, suasana kerja jadi gak aman. Sewaktu-waktu anak-anak pulang (ikut mobil jemputan) dan merebut komputer dari kekuasaanku.

Biasanya kalau anak-anak sudah pulang, aku menyingkir ke dapur, memutar otak memikirkan menu makan malam. Bongkar-bongkar kulkas melihat persediaan. Kalau resepnya aneh, minta ijin pakai komputer sebentar sama Syarrifa untuk nengok resep di Google. Nasi masih ada dari sisa masak pagi tadi. Yang perlu dibikin cuma lauk. Idenyanya tempe penyet atau lodeh kangkung sederhana. Kalo lagi gak ada apa-apa, bikin mie rebus sama telur goreng isi teri medan. Bikin terong balado belom pernah berhasil. Yang paling aku suka bikin rawon. Mudah dan gak ribet. Tinggal cemplungin potongan daging, masak sampai empuk, masukkan bumbu INSTANT, jangan lupa tamahin irisan bawang merah dan putih. Kasi asem dikit udah joos. :D

Pas azan Maghrib gelandang anak-anak mandi dan sholat. Sehabis ngaji satu dua lembar, mereka aku ajak makan malam di lantai dapur. Kalo lagi mood, aku suapin mereka karena dengan demikian mereka gak nyadar udah makan banyaaaaak. Kalo makan sendiri, lamaaaa dan cuma sedikit. Banyakaan ngeluhnya, "Udah kenyaaaaang paaak."

Menjelang waktu Isya? Kerjakan PR? He he he. Sekolahnya anak-anak jarang kasi PR. Cuma ada kesibukan menjelang mau ujian. Kayak hari-hari ini. TV? Syukurnya anak-anak gak begitu mood ama TV, atau mungkin mereka 'takut' aku sirik ama TV yang programnya (terutama jam menjelang malam) isinya tahu sendiri dech.

Jam 8.30 malam sudah menjelang. Sekali lagi anak-anak aku gelandang ke kamar mandi, wudlu buat sholat Isya, sikat gigi, pipis, lalu sholat dan peluk guling sambil mendengarkan cerita tentang peri atau kerajaan antah berantah yang kadang isinya gak logis karena mencampur-adukkan legenda masa kerajaan Hindu kuno di Jawa dengan tokoh cerita yang fasih mengucapkan Bismillaahirrohmaanirrohiim. Memangnya Islam sudah masuk pada zaman Empu Wiwaha? Sama seperti aku, penulisnya perlu banyak baca buku sejarah.

Syukurnya, walo jalan cerita gak logis, tetap saja berkhasiat membuai anak-anak. Atau mungkin suaraku yang kadang datang pergi karena terkantuk-kantuk yang membuat anak-anak terlena? Aku pun ikut-ikutan terlelap walau gak tenang. Apalagi kalau belum sholat Isya dan tadi lupa cek semua jendela dan pintu, Ada lebih dari 25 jendela sekeliling rumah. Aku suka jendela karena bikin rumah terang dan gak perlu banyak lampu listrik. Ada 3 pintu di rumah yang juga aku harus cek, plus satu gerbang belakang dan pintu halaman samping. Pintu pagar depan gak pernah aku kunci. Males .. jauh. He he.

Begitu aja dulu ceritanya, eh curhatnya ... Ntar dech dilanjut .. Moral of the story: curhat berbuah postingan. Horeeee...

Tuesday, 10 November 2009

Service Discontinued

Kedengaran menakutkan. Tapi memang aku takut sekali saat ini. Blogku gak bisa aku akses. Kalau ini benar, hmm ... aku akan kehilangan arsip seluruh hasil latihan tulisku.

Monday, 9 November 2009

Bingung Menulis Apa? Ini Solusinya!

Kalau gak tahu mau menulis apa, ya begini ini jadinya. Kayak aku sekarang. Bingung dan bingung. Kata demi kata terketik tak bermakna. Kalimat terbentuk namun tak nyambung satu sama lain. Jari memaksa menari tetapi otak membatu. Kalaupun satu dua paragraf berhasil muncul di layar, bila tidak segera di-Ctrl+A lalu DEL, akan bernasib naas diedit habis-habisan. Ujungnya bisa ditebak, ide awal sudah tak lagi teringat. Runyam!

Wait a minute! I spent some half an hour composing, editing, deleting, adding, rewriting, restructuring, and recomposing the above paragraph without success but BINGO! I've got an idea! Bagaimana kalau menulis pengalamanku menulis? Pengalaman untuk meng-update website organisasi tempatku kerja?

Tuh khan? Akhirnya dapat ide juga. Sejak membuka blog dan berniat menambah satu postingan, aku ingat saran Natalie Goldberg: "Keep your hand moving" yang aku temukan di http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/meluangkan-waktu-dan-mencurahkan-energi.html

Natalie benar. Sekarang, 45 menit berlalu, ide sudah ada: menulis apa yang aku lakukan untuk http://www.worldagroforestry.org/sea

Website ini terbilang baru. Dibanding versi sebelumnya, struktur menu ditata lebih rapi dan sederhana. Mengelolanya juga tidaklah terlalu sulit karena sebagian besar merupakan halaman statis. Hanya ada dua hal rutin harus dilakukan: (1) mencari informasi seminar, pameran, atau lokakarya yang akan datang, disajikan di bawah menu Upcoming Events. Lainnya (2) menulis artikel pendek, 3 -5 paragraf, tentang kegiatan penelitian di lapangan, temuan baru, presentasi yang dibawakan staf, partisipasi staf dalam seminar atau workshop tertentu, pelatihan yang diadakan, penandatanganan kerjasama, dan kegiatan-kegiatan lain yang dianggap akan menarik bagi pengunjung website.

Tentang yang kedua, menulis artikel pendek, inilah yang aku tahu.

1. Tujuan menulis artikel umumnya bersifat propaganda supaya profil organisasi terangkat. Propaganda berarti menyajikan cerita kegiatan organisasi atau staf sehingga pembaca tahu betapa organisasi ini benar-benar bekerja. Harapannya, pembaca akan berkata begini: "Hmm .. sibuk juga organisasi ini ... kegiatannya juga bagus-bagus, .. presentasinya berisi!" Supaya propaganda tidak terkesan Kecap No 1, diperlukan usaha untuk memilih informasi yang menarik (dan tentunya akurat - ini yang paling penting) untuk disajikan dengan cara memikat.

2. Fokus satu saja. Tak perlu banyak-banyak karena ruang yang tersedia cuma sekitar 600 kata supaya pembaca gak bosan. Misal, tulisan di sini: http://www.worldagroforestry.org/af2/index.php?q=node/276 fokus pada sustaining agility. Ada banyak cerita tentang presentasi di Cape Town, tetapi perlu beberapa judul untuk meliputnya.

3. Ada kalanya sumber informasi tulisan masih mentah berupa laporan perjalanan, publikasi terbaru, file presentasi, atau sekedar alamat website. Diperlukan kecepatan menelaah semua dokumen yang ada untuk memilih sudut bercerita yang menarik, menulis draft, dan konsultasi dengan nara sumber. Ingat, jangan lama-lama karena informasi akan basi kalau tidak segera di-upload.

4. Jangan lupa pakai kutipan. Kutipan beri nuansa cair dalam tulisan. Tentu saja dipilih yang sesuai dengan jalan cerita. Kalau beruntung, kita bisa peroleh kutipan yang bagus, dipakai sebagai pembuka tulisan ataupun ditaruh di paragraf akhir.

5. Sebelum upload ke website (setelah konsultasi dengan narasumber), periksa kembali kemungkinan adanya kesalahan ketik atau tanda baca. Bila bersih dari kesalahan-kesalahan kecil tersebut, tulisan sudah dapat poin positif di mata pembaca.

Itulah sedikit pengalaman pribadi. Sedikit tapi lumayan. Lumayan bisa memenuhi hasrat posting hari ini. :D Kalau ada yang mau nambah, dengan senang hati diterima.




Tuesday, 27 October 2009

Monday, 26 October 2009

Memilih untuk Bahagia

Mengapa memilih kesedihan kalau kesedihan hanya memberi tekanan berlebih di jantung, dalam pembuluh darah di sekujur tubuh, serta wajah tak sedap dipandang? Mengapa tak pilih bahagia saja .. supaya badan terasa ringan dan wajah cerah selalu?

Ada banyak yang tak menyadari hal ini dan membiarkan diri dikendalikan imbas naik turunnya roda kehidupan. Sekarang sedih, besok happy, di akhir hari murung, dan malam tambah murung. Bangun pagi lesu, siang bersorak gembira, dan sore cerah ceria. Aku tak ingin seperti itu. Aku ingin memilih untuk selalu bahagia. Kalo bisa .. :D

Kedengaran serius tapi aku punya bukti. Ketika 2 minggu terakhir Liverpool disakiti Fiorentina, lalu Chelsea, Sunderland, dan terakhir Lyon, aku tak berminat buka internet. Gak berminat buka situs resmi Liverpool. Tak minat baca koran. Isinya kekalahan Liverpool semua, bahkan isu-isu miring tentang Rafa, kemungkinan di-sacked! Tak minat ngobrol bola dengan temanku JT (fans berat Arsenal yang gak bagus-bagus amat he he he), tak hendak kirim SMS berolok-olok dengan Jose (penyuka MU).

Tak ada niat membuka Twitter dan Facebook klub merah ini. Kalau hanya rasa sakit yang aku terima, mengapa aku harus baca berita? Kata-kata positif Rafa di situs resmi klub tak lagi bermakna. Membaca uraian the Guardian, SkySport, SportingEcho, atau BBC, hanya seperti menggarami luka. Aku absen dari membaca, mendengar, dan 'berfikir' tentang klub kesayanganku ini selama hampir 2 minggu, sampai semalam hasil positif 2-0 atas MU membuat bibit kebahagiaan bersemi kembali.

Aku tahu hasil pertandingan itu dari browser Opera Mini di HP-ku. Jam 11 malam .. beberapa saat setelah pertandingan berakhir. Aku gak nonton langsung karena tidak ada TV yang siarkan secara gratis. Tapi info singkat dari HP-ku sudah cukup menjadi awalan bahagia. Segera terbayang besok pagi di kantor (internet gratis) aku buka situs resmi http://www.liverpoolfc.tv/ dan membaca komentar Rafa dan para pemain. Kalau beruntung dapat beberapa foto pertandingan, tentunya gambar para hero bergembira.

Pagi tadi aku memilih mengawali hariku dengan membaca semua ulasan tentang kemenangan itu. Aku memilih untuk meresapi rasa senang (atau bahagia) karena kemenangan sang klub kebanggaan. Aku nikmati ini semua. Dan aku ingin berterimakasih pada Rafa dan the Team yang menjadi sebab rasa senang ini. Walaupun hasil pertandingan masih jauh dari membuat Liverpool lompat memimpin klasemen, paling tidak mengalahkan MU, sang musuh bebuyutan, adalah kemenangan besar.

Aku pilih bahagia. Makanya aku pilih membaca cerita-cerita yang membahagiakan. Aku pilih bahagia, makanya aku pilih melakukan hal-hal yang membahagiakan. He he.

Friday, 9 October 2009

Connected Pakai HP Ifa

Ah .. senang sekali akhirnya bisa konek ke internet pakai handphone. Adalah KP 500, LG Cookie Series, milik Ifa (my cute daughter) yang memberiku pengalaman.

Sudah lama aku dengar HP bisa jadi modem untuk akses internet. Tetapi sebagai penikmat internet gratisan di kantor, aku tidak begitu peduli. Toh sejak jam 8 pagi sampai sekurangnya jam 5 sore, Senin sampai Jumat, jus koneksi terpompakan ke my Latitude D420 tanpa halangan. Tim IT kantor juga siap membantu setiap ada masalah.

Seiring kebutuhan koneksi (gak jelas ini benar-benar butuh atau sekedar merasa butuh) terutama hari Sabtu Minggu dan malam hari, aku pasang Telkom Speedy di rumah. Mantap! Koneksi stabil dan murah. Per bulannya, paket unlimited keluarga hanya 200an ribu. Cukup buat sekeluarga, aku, Naning, Ifa, dan Aya.

Lalu muncul kebutuhan lain. Bagaimana kalau mau internetan dari luar kantor dan tidak sedang ada di rumah? Jawabnya: perlu koneksi mobile! Aku lalu coba Indosat IM2 yang diakses dengan modem Mobile Partner. Walau tidak sebagus Speedy, ini sudah tergolong OK banget. Sudah memenuhi kebutuhan dasar buka dan kirim email dalam situasi darurat, kapan dan dimana saja, asal sinyal Indosat ada.

Tetapi bagaimana kalau sedang tidak di kantor, tidak di rumah, atau tidak dekat dengan wi-fi hotspot, tetapi di rumah sakit? Kayak aku sekarang yang lagi nungguin Aya opname kena campak jerman (rubella)? Rumah sakit kami di Depok tidak (atau belum) menyediakan akses wi-fi sementara Mobile Partner dibawa Naning kerja Padang. Hmm ... iseng-iseng coba KP 500! Kebetulan Ifa bawa kabel datanya. Lumayan jos, cek imel kantor beberapa menit pakai Simpati.

Tapi josnya cuma sebentar ... karena satu dan lain hal .. koneksi putus dan gak bisa nyambung lagi. Mungkin KP 500-nya yang bloon atau aku yang bloon gak tahu setting HP yang benar. Udah dicoba berkali-kali tetep saja gak bisa nyambung lagi. Nyerah dech ... Tulisan ini juga nyerah sampe di sini dech ..

Tuesday, 29 September 2009

Drama Rumah Atas

Bangunan lantai dua belum juga kelar. Masih banyak yang diperlukan. Rasanya susah. Pertanyaan sama yang selalu muncul, "Dari mana dapat uang untuk beli material?"

Hari ini para tukang sudah kembali kerja. Ada Pak Agus, Arif, Riki, dan Nana, semua dari Garut. Hari ini pula aku mulai menghitung kebutuhan selanjutnya:

1. Kayu lisplang: 1.5 juta
2. Pintu 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi: 2 jt
3. Engsel jendela dan pintu-pintu: 1.5 juta
4. Cat tembok: 1.5 juta
5. Cat kusen jendela dan pintu: 1.5 juta
6. Pasir 1 truk: 1.5 juta
7. Keramik lantai ruang tengah dan 2 kamar: 5 juta
8. Keramik kamar mandi: 1.5 juta
9. Kloset, wastafel, perlengkapan keran kamar mandi: 3 juta
10. Ongkos para tukang sebulan: 7 juta

"Totalnya itung sendiri ya say," begitu bunyi SMS-ku ke istriku.

Naning menjawab singkat, "Hwoaaaa dan hiks."

Begitulah drama pekerjaan pembangunan lantai dua rumah kami yang sudah dimulai sebulan sebelum Ramadhan kemarin. Pekerjaan terus berlanjut dan nggak tahu kapan berhenti karena bangunan bawah sebenarnya juga masih belum beres atau dalam bahasa para tukang "belum rapi".

Tetapi, haruskah sampai rapi? Hmmm .. mungkin ya dan mungkin nggak. Tergantung ada duit atau nggak. Kalaupun semua sumber duit (termasuk hutangan) sudah mengering, gak rapipun pekerjaan akan dihentikan. Ketimbang malah jadi masalah di kemudian hari bukan?

Hari Bersejarah

Gak berencana menulis apa-apa tentang hal ini. Tetapi sayang juga kalau dilewatkan. Siapa tahu bisa jadi kenangan di masa yang akan datang. Kenangan akan hari ini, 29-09-2009, hari yang bersejarah bagiku.

After a quick telephone chat with my wife Naning yesterday, she texted a message, "He3x, we've made a big, serious, n critical decision. With relax mode ya say."

I went on drafting and sending an email to my supervisor, an email about me finally deciding to quit from work. With my current financial situation, life may not be easy anymore. But remembering my only reason, my two daughters - yang makin besar dan sudah pinter 'melawan', I think I am happy with this decision.

Monday, 14 September 2009

Nur ... Kita Akan Berjumpa Lagi

Hari ini Nur pulang. 14 September 2009. Setelah hampir 5 tahun bekerja di keluarga kami. Dia akan menikah November nanti. Aku merasa kehilangan. Rasanya salah satu anggota keluarga baru saja pergi. Dadaku terasa sesak.

Walaupun aku menguatkan hati dengan mengingat-ingat ini adalah bagian dari rencanaku dan istriku Naning untuk membuat anak-anak mulai mandiri, untuk tidak selalu tergantung pada Nur, tak bisa kutolak rasa sedih ini.

Nur telah bersama kami dalam banyak peristiwa. Dari mulai menempati rumah kecil yang kami sewa, lalu beli tanah dan bangun rumah yang sekarang, menempatinya sejak sebagiannya masih berlantai tanah. Nur menemani aku, dan dua anakku, Ifa dan Aya, saat ibu mereka kerja di Aceh. Menemani kami ketika Kancha Aprilian, anak kami ketiga, lahir untuk kemudian dipanggil lagi oleh Yang Maha Kuasa. Nur telah menemani kami dalam banyak peristiwa.

Mataku berkaca saat bersamalan dengan Nur. Aku takut mengeluarkan suara, malu terdengar serak. Kulihat Nur mentupi matanya. Dia mencoba mengarahkan pandangan untuk yang terakhir kalinya, ke arah kamarnya.

Aku tahu dia menahan isak. Setahun lalu, ketika ia pulang mudik, ia menangis sesungukan di tempat menunggu bis, seakan tak mau berpisah dengan kami. Tak bisa kubayangkan rasa sedihnya kali ini. Ini adalah pulang mudik, tapi tidak untuk kembali lagi.

“Ah .. kamu kan bakal sering main ke sini … Sering-sering main ya …” kucoba berkata pelan, berusaha tegar. Kata-kata itu bukanlah untuk menghibur Nur, tapi sebenarnya untuk mengingatkanku bahwa Banjarnegara, asal di Nur, tak jauh dari Depok. Bahwa setiap saat Nur bisa datang kalau dia ingin menengok kami, atau bila kami ingin dia datang mengunjungi kami.

Datang ke Depok? Ke rumah ini? Mungkin tidak akan menjadi perkara mudah buat Nur karena November nanti, ia sudah menjadi istri Eko, bujangan Temanggung yang dikenalnya tak sampai setahun lalu. Dari Nur aku dengar Eko memintanya untuk berhenti bekerja setelah menikah nanti. Bagaimanapun juga, tentu itu hal yang sangat mudah dimengerti. Bagaimana mungkin suami istri, penganten baru, hidup berpisah?

Keputusan pulang dan menikah merupakan satu hal yang akan aku kenang dari Nur. Walau jarang ngobrol mendalam dengannya, aku tahu dia sangat berani dengan keputusan ini. Eko belum punya pekerjaan tetap, begitu Nur bercerita suatu ketika. Dan Nur belum tahu ia akan kerja apa untuk kehidupannya kelak.

“Tapi tak tahulah nanti,” begitu kata Nur.

Nur Laela, itulah nama lengkap Nur. Saat ini usia hampir 21 tahun. Aku ingat sorotan matanya, mata cemas, mata seorang anak kecil, melayangkan pandangan sekilas, kepadaku yang duduk di belakang kemudi mobil Panther kami, 5 tahun lalu, malam-malam berhujan, ketika kami menjemputnya, di rumah kakaknya di Banjarnegara.

Nur Laela, hanya tamat SMP, seorang piatu, ibu meninggal dan bapak kawin lagi, bersedia kerja bantu kami di rumah. Ah .. aku masih ingat sorotan mata cemasnya. Dan waktu itu, ingin kuingatkan padanya, jangan kawatir, keluarga kami bukan keluarga ndoro seperti dalam sinetron. Kami sama saja denganmu, sama-sama berasal dari desa, kebetulan saja terlempar ke Jakarta untuk mengadu nasib, dan kebetulan pula kami merasa perlu seseorang di rumah menjaga anak-anak dan mengurus rumah, selagi kami kerja.

Ah itu masa lalu. Tapi aku juga heran, betapa sorot mata Nur malam itu tak pernah lenyap dari ingatanku yang pendek. Betapa 5 tahun terasa hanya seperti kemarin saja.

Kulihat Nur menuju pintu depan. Dia menatap teras kami yang tak rapi. Menyapu halaman depan hanya untuk merasakan kesedihan kian dalam. Aku bisa mendengar isak tertahan. Aku di belakangnya. Ikut-ikutan memandang sekeliling. Sebentar lagi, rumah ini akan kehilangan seorang anggotanya. Ironis, ketika rumah ini hampir jadi, dan ketika ia siap dinikmati, salah satu penghuninya pergi.

Nur pulang. Aku sekeluarga sudah tahu sejak 6 bulan lalu. Tak sempat perpisahan secara semestinya. Tak kusesali tak mendapatkan kesempatan itu. Aku bekali Nur sedikit duit tambahan dan beberapa pakaian baru. Juga sarung untuk calon suaminya. Nur tidak jauh kok. Dia hanya belasan jam dari Depok. Kita akan bertemu lagi. Om Tyo yang akan mengantarnya ke tempat bis di Margonda sana sudah menyalakan motor.

Keberaniannya memutuskan menikah dan berhenti kerja akan tetap kukenang. Melepaskan pekerjaan dan ikut suami bukan hal mudah bagi banyak perempuan. Nur sudah membuat keputusan. Bagaimanapun, mungkin ia juga jenuh setelah sekian lama hidup bersama kami, mengurus kami, aku, Naning, Ifa dan Aya.

Yang aku bayangkan sekarang adalah bagaimana Ifa dan aya mengelola rasa kehilangan mereka. Seminggu terakhir sebelum Nur pulang, Aya selalu tidur di kamar Nur. Kadang Aya bermanja lebih. Mungkin itu caranya untuk mengantisipasi kepulangan Nur. Saat Nur pulang, Aya sedang main di rumah tetangga. Mungkin dia tidak sempat mendapat ciuman selamat tinggal dari Nur. Tapi gak apa-apa. Bila tidak ada aral melintang, kami rencana datang ke acara pernikahan Nur nani. Aku fikir, aku masih ingat simpang jalan menuju desanya. Toh aku masih punya nomor HP-nya.

Bentar dulu... HP-ku berdering. Dari Naning. Dia mengabarkan sudah berada di tempat Nur tunggu bis. Tiba-tiba semua ambrol, tak kuasa lagi aku menahan sesak di dada, aku menangis ...

“Bapak nangis ya ...?” begitu tanya Naning tak percaya. “Berapa ember air matanya?” sesaat mencandaiku lalu terdiam begitu mendengar tangisku tak dibuat-buat.

Di sela isak tertahan, aku cerita aku sedang tulis cerita tentang Nur.

“Sampaikan maafku ke Nur ya .. kalau-kalau ada yang salah .. aku tadi gak sempat minta maaf, tak kuasa ngobrol dengannya berlama-lama.”

Di sela linangan air mata, aku ingat sedang puasa .. aku sebaiknya tak menangis .. nanti batal puasaku ... . Mungkin aku sudahi saja tulisan ini biar aku tak tambah sedih. Tadinya kau berharap dengan menuliskan perasaan, aku akan terbantu, tapi aku salah. Aku tahu Nur dapat merasakan perasaaanku ini, aku tahu dia merasakan kesedihanku. Aku sedang melihatnya sesungukan menunggu bis ... ditemani Tyo dan Naning. Selamat jalan Nur, bila ada apa-apa .. jangan segan bilang ya ... Insya Alloh kami selalu ada buatmu. Selamat jalan, tapi ingat, kita akan bertemu lagi.

Tuesday, 1 September 2009

Buang Air, Minum Air, Botol Air

Perjalanan ke luar negeri dengan menggunakan pesawat terbang, entah atas biaya kantor atau pribadi, bisa terasa lebih nyaman bila beberapa hal berikut dicermati. Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mungkin sepele, namun tetap berpotensi mengurangi kenyamanan perjalanan bila tidak dikelola dengan baik. Mari simak ...

Masalah buang air kecil, terutama bagi lelaki muslim yang terbiasa menggunakan air untuk bersuci, sering jadi perkara besar bila urinoir (tempat pipis) yang tersedia di airport menggunakan sistem sensor. Air penguras hanya mengalir sesaat setelah pengguna beranjak dari depan urinoir. Padahal air diperlukan segera setelah selesai mengosongkan kandung kemih.

Saran: Selalu bawa botol air mineral 600 ml atau tissue sebelum pipis. Dengan demikian anda tidak perlu menipu sensor dengan pura-pura beranjak dari urinoir, memirinkan badan dengan gerakan melenggok yang aneh supaya sensor tak terhalang badan, lalu cepat-cepat mengambil air yang mengucur hanya dalam hitungan detik. Repot bukan?

Air dalam kemasan tanggung ini juga berguna bila hendak buang air besar karena biasanya di toilet hanya tissue yang tersedia. Bila perlu lebih banyak air, bawa saja beberapa botol. Kemasan 1 literan tidak efektif karena bikin susah saat menuang air.

Tambahan: Kalau tidak suka mengeluarkan duit setara 1 dolar Amerika untuk air mineral 600 ml, bawa saja botol plastik dalam tas tentengan. Tapi jangan diisi air dulu karena hampir semua penerbangan tidak membolehkan penumpang membawa bahan cair lebih dari 100 ml. Botol plastik ini berguna untuk mengambil air minum dari tap air yang tersedia di beberapa airport besar. Gak perlu beli air minum bukan?

Selain urusan minum air dan buang air, hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan oleh lelaki (dan juga perempuan) muslim adalah masalah sholat. Jangan karena sholat yang tidak sempat ditunaikan, anda akan mengalami perasalan bersalah di sepanjang sisa perjalanan. Perkara yang satu ini sebenarnya cukup mudah. Dalam hal sholat, Islam memberi banyak kemudahan pada pemeluknya. Misal para musafir dibolehkan melakukan jama' atau qashar. Jika tidak ada air, cukup dengan tayammum. Tetapi dimana sholatnya? Itupun tidak menjadi hal karena di setiap airport pasti ada tempat kosong (di belakang papan reklame, di koridor yang tidak dipakai, dll.) dimana sajadah bisa digelar. Jangan lupa bawa kompas untuk memperkirakan arah kiblat.

Airport Suvarnabhumi di Bangkok punya ruangan khusus yang di lantai 3 yang berfungsi khusus tempat sholat (Muslim Praying Room - Floor 3). Walaupun ada peringatan dilarang tidur dalam musholla, kalo terpaksa tetap masih bisa dijadikan tempat tiduran. :D

Untuk urusan 'pelit sedikit' selama perjalanan mungkin memang perlu selalu diingat supaya duit yang bisa dihemat nantinya dapat dipakai untuk beli oleh-oleh keluarga atau kerabat di rumah.

Salah satu cara berhemat adalah dengan membawa makanan kecil dari rumah. Kadang dalam perjalanan anda terpaksa harus transit dalam waktu yang cukup lama. Anda tentu bisa memperkirakan berapa jam harus menunggu pesawat berikut. Ketimbang perut lapar dan setelah makan malah tambah nyeri bila harus mengingat harga makanan di airport, lebih baik bawa sale pisang kering, biskuit, atau beberapa jenis makanan lain. Bisa dibeli di convenience stores samping rumah.

Nah itu beberapa hal yang bisa ditulis sekarang. Ada beberapa tips lain, pendek aja ya:

1. Selalu gunakan troley. Biarpun tentengan ringan, kalau harus dibawa kesana kemari selama menunggu pesawat (misal 3 jam atau lebih) pasti lama-lama akan terasa berat. Aku pernah lihat pemuda berparas India dengan backpack dipunggung sementara tangan kiri membawa tentengan kardus dan kanan satu kantong plastik entah berisi apa. Kelihatan sekali dia kesusahan. Coba pakai troley, gak perlu sakit pinggang.

2. Kalau mau, pilih tas tentengan yang ada rodanya. Banyak kok yang jenis ini di pasar tas. Jadi anda gak perlu angkat-angkat, tinggal geret beres dech. Tenaga bisa dihemat banyak.

3. Terkait dengan hemat tenaga, gunakan ban berjalan otomatis. Apalagi kalau harus mengejar penerbangan berikutnya begitu anda turun dari pesawat, ban berjalan menjadikan langkah anda 2 atau 3 kali lebih panjang.

4. Siapkan tas kecil yang bisa diselempang berisi paspor, tiket, boarding pas, dokumen untuk aplikasi visa, duit kecil, dan barang berharga lain yang setiap saat perlu dikeluarkan. Paling penting, jangan lupa satu atau dua bolpoin untuk menulis berbagai formulir visa atau kepabeanan.

Hal lain, terutama terkait dengan laptop, wifi, kamera, handphone, colokan listrik, adapter, charger, kabel, dll, ntar aja ya kalo ada kesempatan.

Oleh-Oleh Buat Keluarga

* BTW.. jam berapa nich? lagi di hotel?
- jam 7 - di hotel. gile di sini barang2 mahal banget

* Of course dear ... namanya aja europe .. lagian, per diem nya paling mahal kayaknya
- well, tapi jauh lebih mahal dari belanda, swiss gitu loh

* he he he… solusi: dont buy things. aku temukan satu tulisan anak Indonesia. di buku tamu di sebuah gerai aksesories di Nairobi. bunyinya kira kira gini: 'Uedaaaann!! larang temen... regane bikin modar! akeh nang pasar tanah abang!!!)
- maksudnya? ga bisa jawa nih

*oh ..Gilaaa!.. mahal banget! harganya bikin puyeng! beli di pasar tanah abang aja .. ada banyak kok
- maksudnya oleh2nya banyak di tanah abang?

*ya . pernak pernih dan aksesories dan kain pashmina dll yang dijual di sana banyak yang mirip di Indonesia, entah di tanah abang, di blok m, dll ... jadi ... jangan tertarik membeli .. karena sebenarnya banyak barang yang sama (atau minimal senilai) ada di indonesia
- tul juga

*kalo gak di jakarta, mungkin di bukit tinggi, atau di makassar, atau di jogja, dan tentunya BALLLLIIII ... come to Bali , and you can get ten times as much barang as you get here . .kali gitu pesennya … he he he tapi tentunya banyak barang yang betul betul khas swisss donk …misal jam swiis hihiihihi
- keju yang rasanya amburadul

*ha ha hah a .. dont ever try! ketika di nairobi, aku komplain ke istriku .. banyak aksesories penghias rumah bagus bagus loh, tapi gak bisa beli .. jawabannya .. dont worry .. ntar kalo punya duit . kita bisa beli di jepara ato di bali ato di jogja .. the message: save your per diem untuk dipake di indonesia ...
- good point

*kupikir bener .. temen temen bule kita mungkin suka banget di indonesia .. setelah lama dihajar harga harga selangit di negaranya, nampaknya jakarta is a shopping heaven loh ... paling tidak .. duitnya dipake di duty free di cengkareng aja .. barang barangnya mirip (kalo gak mo bilang sama) .. parfum dll dll . tapi harganya .. masih harga tanah air
- harusnya HQ di indonesia kali ya

Monday, 31 August 2009

Handwriting Posters? No Way!

These may be the most astonishing posters I have ever seen. Out of the 300 posters displayed during the WCA 2009 at the UN Headquarters in Nairobi from 23rd to 28th of August, the two posters produced by LAYA are unique. They are all handwritten!

A hard worker shouldn’t find it difficult to inscribe 2000 words on a 50X150 cm poster paper. But bearing in mind the current advanced printing technology, where one can send a poster to a printing company electronically and get a beautiful poster delivered the next day, doing such a cumbersome work is simply unbelievable.

“It took 6 days to write the texts and to draw the illustrations. We employed three people to work on the posters,” explained Venu Gopala Rao, a LAYA scientist responsible for preparing the poster content and overseeing the production.

LAYA is a non-government organization based in Visakhapatnam, Andhra Pradesh, South India. The organization works on finding sustainable land use practice through non wood forest products farming and improving food and livelihood security in the tribal areas of Indian north coastal districts.

Attracting attention is only one of the reasons for handwriting the posters.

“We mean to avoid using plastic. Of course you can find a poster printing company in our town, but it is against our organization’s value if we cannot minimize the use of plastic,” explained Venu, a devoted 40 years old scientist working in LAYA for the last 20 years.

Interesting, isn’t it?

Originally posted on Sun, 08/30/2009 - 06:43 at the following link: http://www.worldagroforestry.org/wca2009/handwriting-posters-laya

Agroforestry System to Save Olive in Italy

Nairobi – 24 August. Adolfo was prompt this morning. Informed that late participants wouldn’t be allowed entrance to the WCA2009 Conference Hall at the UN Compound once President Kibaki is on stage, he had to skip his breakfast to catch the conference bus to depart at 7 a.m. from his downtown hotel.

Arriving in Nairobi on KLM a day before, Adolfo Rosati, an Italian scientist working for the CRA (the government independent council for agricultural research) attended the WCA2009 to find more information about the potential of agroforestry system for the current issue Italy is facing.

“In Italy, we have over a million hectares of olive plantation grown traditionally. The problem is olive becomes economical only if the European funds it. After 2013, they would probably stop the funding risking over a million hectares of olive to become abandoned. If we can turn part of this into agroforestry system, combining olive with pasture or other crops underneath it, then we can make it economical.”

Adolfo said keeping olive in the landscape is historically important to the Italian people as olive is very much part of the history of their landscape. He expected to meet other scientists or organizations to work together on further study of olive agroforestry system.

Originally posted on on Tue, 08/25/2009 - 09:44 at the following link: http://www.worldagroforestry.org/wca2009/agroforestry-system-to-save-olive-in-italy%20

CIFOR-Panos Media Training during WCA2009

Around twenty African journalists, a fraction of more than 100 registered journalists to cover the 2nd World Congress of Agroforestry (WCA 2009), arrived earlier in Nairobi last week to attend a media training facilitated by Panos London and Panos East Africa under the support of Centre for International Forestry Research (CIFOR). The World Agroforestry Centre (ICRAF) Nairobi hosted the training held from 22nd to 27th of August.

According to Ana Abar, one of the Panos facilitators, the training functions as a place for the participants to build an in-depth understanding on climate change issues important to do their work, especially when they come to Copenhagen later this year to cover the climate change talk.

A number of experts on climate change issues from CIFOR and ICRAF were invited to present their ideas. On the second day, Dr Peter A Minang of ICRAF talked about the need for Africa’s common voice on the climate change negotiations. A day earlier, Dr Dennis Garrity, ICRAF’s Director General provided the journalists an overview about the WCA2009 and the ideas on agroforestry as the future global land use.

“The participants are environmental and science journalists working at local-national TV, radio, and print media in Kenya, Uganda, Ethiopia, Sierra Leone, Nigeria, Tanzania, and South Africa. This training is also a venue for them to get to know each other better and build partnership among for future collaborative media work,” said Ana, a Brazilian now residing in London.

Henry Lutaaya from the Sunrise Newspaper in Uganda shared the same idea.

“I came here with a hope to meet and exchange views with other journalists working on climate change issues.”

He suggested an improvement to the program.

“More experts from different background such as economists, social scientists, and environmentalists, to come and talk to us on the subject would be very very good,” said Henry while expressing his delight to be able to work together with Alex Kirby, a BBC veteran environmental journalist.

“We learn a lot from experienced journalists!”

Originally posted on Tue, 08/25/2009 - 13:13 at the following link: http://www.worldagroforestry.org/wca2009/node/60

Tuesday, 18 August 2009

Panos Nairobi Climate Change Workshop

Aku bakal ke Nairobi lagi. Kali ini buat ikut Panos Nairobi Climate Change Workshop (21-28 Agustus 09) yang diselenggarakan bagi para wartawan peliput 2nd World Congress of Agroforestry (WCA) di Nairobi, Kenya. WCA itu sendiri diselenggarakan kantorku World Agroforestry Centre (ICRAF) bekerjasama dengan UNEP (United Nations Environment Program). Kantor pusat ICRAF di Nairobi letaknya bersebelahan dengan UNEP di UN Avenue, Gigiri. Menurut cerita, penerima Nobel dari Kenya, Ibu Wangari Maathai akan hadir dan menjadi pembicara dalam acara WCA ini.

Adalah CIFOR dan Panos yang mula-mula berinisiatif mengadakan workshop khusus bagi para wartawan di sela-sela berbagai sesi WCA. CIFOR adalah Pusat Penelitian Hutan yang berkantor pusat di Bogor sementara Panos merupakan lembaga yang mendorong partisipasi masyarakat miskin dan marjinal dalam pembangunan nasional maupun internasional melalui berbagai proyek media dan komunikasi. Kantor pusat Panos berada di London dan memiliki cabang di Nairobi.

Dengan tujuan membekali wartawan dalam peliputan isu-isu perubahan iklim, terutama menjelang Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen akhir tahun ini, CIFOR dan Panos bekerjasama membantu para wartawan memperluas cakrawala tentang isu-isu perubahan iklim. ICRAF Nairobi turut mendukung acara dengan menyediakan tempat workshop. Peneliti senior ICRAF dan CIFOR termasuk yang akan memberikan presentasi.

Kayak apa workshop wartawan? Ntar dech ceritanya kalo sudah sampe di Nairobi.

Monday, 27 July 2009

Intramuros, Manila

Kalau anda sedang di Manila, jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke Intramuros, kompleks kota tua peninggalan Spanyol abad 16. Kawasan dengan luas 67 hektar ini dikelilingi dinding tinggi (juga dari zaman kejayaan Spanyol) yang masih berdiri kokoh membentengi kawasan. Di dalam kompleks terdapat bermacam bangunan tua yang masih berfungsi dan dirawat baik.

Ketika berada di Manila 26 Juli lalu, aku berkunjung ke Intramuros dan sungguh terpana akan keagungan dan keindahan yang aku lihat. Bangsa Filipina perlu berbangga telah berhasil menjaga dan merawat kompleks Intramuros sebagai bagian dari sejarah agung bangsa ini.

Berikut ini daftar ke 27 bangunan yang bisa dikunjungi selama di Intramuros. Aku hanya sempat masuk ke Manila Cathedral, Fort Santiago, dan San Agustin Church and Convent. Melihat-lihat ketiganya saja sudah membuat terkagum-kagum. Berhubung singkatnya waktu, sebagian besar hanya aku lihat dari luar. Ntar kalo sempat, aku berikan deskripsi singkat masing-masing yang berikut ini.

1. Fort Santiao
2. Palacio del Gobernador
3. Postigo del Palacio
4. Puerta de Sta. Lucia
5. EJC Building
6. Baluartillo de San Jose
7. Reducto de San Pedro
8. Bagumbayan Light and Sound Museum
9. Baluerte de San Diego
10. Puerta Real
11. Revelin de Real Bagumbayan
12. Baluerte de San Andres
13. Revellin de Recoletos
14. Baluerte del Dilao
15. Puerta del Parian
16. Revellin del Parian
17. Baluerte de San Gabriel
18. Puerta de Isabel II
19. Aduana (Customs House)
20. Plaza de Sto. Tomas
21. Ayuntamiento
22. Plaza de Roma
23. Manila Cathedral
24. Bahay Tsinoy
25. Plazuella de Santa Isabel
26. San Agustin Church and Convent
27. Plaza San Lusi Complex

Sunday, 26 July 2009

Tips Membeli Tiket Pesawat

Zaman sekarang, membeli tiket pesawat di agen perjalanan kecil tak ada bedanya dengan agen perjalanan besar yang sudah kondang sejak era penerbangan mahal sepuluh tahun lalu. Harga sama saja. Beli langsung di kantor penerbangan kadang jatuh lebih mahal.

Kemajuan sistem booking on line memberi kemudahan bagi setiap agen perjalanan (mentereng atau berdebu) untuk mengecek harga dan ketersediaan seat secara real-time. Semua agen berposisi setara di hadapan sistem booking on line. Siapa yang rajin ngecek, dialah yang mendapat keuntungan bila tiba-tiba muncul harga bagus, promo, atau diskon. Bukankah pelanggan senang dengan harga-harga promo?

Awal Mei lalu, aku belikan adikku, temannya, dan ibuku tiket Garuda .. promo … Ampenan (AMI) – Jakarta (CGK). Hanya Rp. 687.000 sekali jalan. Pulangnya, lagi lagi dapat promo, dengan harga yang sama. Total, sekitar 1.4 juta sudah bisa bolak balik Mataram-Jakarta-Mataram. Padahal, harga normal rute ini adalah sekitar 3 juta pergi pulang. Penghematan luar biasa bukan? Aku sering beli tiket untuk keperluanku pribadi atau kantor, juga buat istriku, teman-teman istriku, dan saudara atau teman, dengan harga promo yang pasti lebih murah dari harga normal.

Penghematan seperti itu aku peroleh tidak lain karena jasa agen perjalanan tempat aku biasa beli tiket, Joe Travel, Bogor. Tinggal kirim pesan lewat YM ke Mbak Iva, atau SMS ke HPnya, sebutkan rute dan nama yang akan berangkat, jangan lupa kasi pesan khusus: yang murahhh yaa a.. lalu beri tanda senyum malu-malu (:D), sesaat kemudian Iva akan jawab, “Bentar ya Pak .. aku carikan”. Tak perlu nunggu lama, paling telat 15 menit Iva akan kirim beberapa alternatif penerbangan lengkap dengan harganya.

Selain penghematan, kemudahan komunikasi merupakan salah satu hal yang penting. Dengan Iva (Joe Travel) kemudahan itu aku dapatkan. Kalau urgen banget aku akan telpon langsung ke HP-nya. Kadang aku ikuti dengan BUZZZ di YM-nya, juga SMS ke HP, atau kirim email. Minta prioritas khusus karena sesuatu alasan.

Syukurnya Iva memberikan kemudahan lain berupa bayar belakangan. Kebetulan kantorku (World Agroforestry Centre – ICRAF) memiliki perjanjian khusus dengan Joe Travel mengenai bayar belakangan ini. Tentunya ini tidak berlaku untuk pembelian tiket pribadi. Namun karena sudah kenal, begitu kata Iva, gak apa-apa bayar telat.

Aku pernah beli tiket untuk teman-teman istriku seharga sekitar 50 juta, bayar telat karena duit dari kantor istriku belum turun. Sebenarnya Iva sedang menempatkan dirinya pada resiko besar kalau-kalau aku tidak bayar. Tiket sudah di-issue tapi duit belum masuk. Tapi dia bilang kan udah kenal. Aku juga tahu diri dong. Begitu duit turun, 2 atau 3 hari kemudian, aku langsung kirim ke rekening Joe Travel. Untuk keperluan tiket pribadi satu atau dua lembar, aku sering harus telat bayar. Issue tiket siang, bayar malam pas pulang kantor dan lewat ATM di Depok. Kalau masuh belum sempat, bisa bayar besoknya.

Mengapa fasilitas bayar bekalangan perlu? Di agen perjalanan lain, tiket akan di-issue hanya bila pembeli sudah bayar. Ini akan menyulitkan karena sistem booking on line kadang memberikan limit pencetakan tiket sangat pendek, terutama untuk tiket-tiket promo. Apa yang terjadi bila pelanggan berada di luar kota? Tidak ada ATM? Apakah tiket promo yang murahnya hampir 50% harus rela dilepas? Sayang bukan?

Berlangganan atau sudah dikenal oleh agen perjalanan tertentu juga bisa sangat menolong. Begini ceritanya. Ketika aku ketinggalan pesawat dari Hanoi ke Ho Chi Minch City hari Jumat lalu tanggal 24 Juli (penerbangan jam 13.30), ketika aku panik dan tak tahu arus berbuat apa, aku merasa sangat beruntung masih simpan nomor HP Iva. Aku kirim SMS ke dia tanya apakah tiketku, Vietnam Airlines, bisa direfund kalau-kalau aku harus beli tiket penerbangan lain. Karena weekend, semua penerbangan Vietnam Airlines ke Ho Chi Minh City sudah penuh. Iva tidak hanya bilang … “ya pak, bisa direfund kok”, tapi ternyata dia bertindak cepat mengecek ketersediaan seat untukku.

Informasi petugas counter Vietnam Airlines di Noi Bai Airport di Hanoi yang mengatakan “Sorry sir, all flights are full!” ternyata belum merupakan vonis mati.

Diam-diam Iva ‘mengintip’ ketersediaan seat dari Bogor. Hasilnya, ada yang kosong di penerbangan terakhir jam 20.30. Iva lansgung pindahkan aku ke sana. Tak lama kemudian, karena ada yang kosong di penerbangan jam 17.00 aku lagi-lagi dipindah ke sana. Luar biasa bukan? Aku tidak harus beli tiket penerbangan lain. Hanya dengan SMS dan layar monitor di Bogor, Iva bisa bantu aku keluar dari situasi sulit. Benar-benar luar biasa bila anda mengalami langsung kejadian serupa, apalagi bila baru pertama kali berada di sebuah airport di negara asing dan persediaan uang pas-pasan.

Berikut ada beberapa tips, semoga berguna.

Tips buat pelanggan:
- Pilih satu agen perjalanan sebagai langganan. Dua boleh sebagai alternatif.

- Kenal dengan salah satu stafnya. Selalu beli tiket padanya. Alasan utama, kemudahan komunikasi. Lagipula karena dia sudah kenal kita, semua jadi gampang.

- Simpan nomor HP, YM, Email, akan sangat penting setiap saat anda perlu.

- Sambil minta harga pada agen perjalanan tersebut, jangan lupa cek harga ke agen perjalanan lain, misal yang nomor telponnya anda temukan di pinggir jalan, atau langsung ke call center penerbangan yang bersangkutan. Cek informasi harga yang tersedia di website masing-masing.

- Bila minta informasi jadwal dan harga ke agen perjalanan langganan, jangan lupa katakan: “kalo ada yang promo ya … :D”

- Pilih jam penerbangan yang tidak populer, yang tidak banyak dipilih oleh para pebisnis. Biasanya tiket promo ada di jam-jam tak populer itu.

- Ada beberapa perusahaan penerbangan yang memang memberikan harga di bawah harga normal, namanya Budget Flights .. misal: Air Asia, JetStar, Cebu Pacifi, Tiger, dll.

- TIPS PALING PENTING: Beli tiket JAUH-JAUH HARI. Bila sudah pasti tanggal berangkatnya, segera hubungi agen anda. Bila perlu dua bulan sebelum keberangkatan. Biasanya tiket promo masih banyak tersedia. Bandingkan harga bila anda beli tiket sehari sebelum berangkat, pasti anda menangis melihat jauhnya perbedaan.

- Dalam zaman tiket elektronik sekarang, kita gak perlu khawatir apakah kita beli tiket di Bogor atau di Kuala Lumpur. Tiket cukup dikirim dalam bentuk PDF lewat email atau fax. Kadang cukup dengan mengetahui kode booking dan simpan di HP.

- Apa lagi ya? Silahkan ditambah kalau ada …

Extra: Tips buat agen perjalanan:
- Beda agen perjalanan yang satu dengan lainnya bukan pada besar kecilnya kantor. Tetapi pada pelayanan yang diberikan.

- Layanan termasuk: keramahan staf, perhatian staf, komunikasi yang baik, dan kecepatan merespon pelanggan.

- Kadang harga tidak masalah bila layanan bagus. Gak dapat promopun, karena merasa dilayani dengan baik, harga mahalpun akan pelanggan disikat! :D

- Jawab SMS, email, atau YM dengan cepat. Kalau tidak bisa langsung memberikan informasi yang diminta, berikan waktu. Misal .. “30 menit lagi ya bu … “ dan yang penting TEPATI. Jangan biarkan pelanggan menelpon untuk yang kedua kali.

- Berikan alternatif penerbangan minimal 3. Ini akan memudahkan pelanggan memilih disesuaikan dengan keperluan masing-masing.

- Udah .. itu aja … mungkin kata lainnya, manjakan pelanggan anda. Kalau ia merasa dimanja, ia gak akan pindah ke lain hati.

Informasi Promosi:
Joe Travel
Jl Raya Pajajaran I Bl YK
BOGOR 16142
Phone : 0251-311885

Contact person:
Iva Febrina
HP: 081310030899
YM: luph_u4l
Email: tix_joetravel@indo.net.id

Ohmygod! Dosaku apa?

Aku pernah ketinggalan pesawat. Tetapi bukan murni salahku. Hujan deras pagi-pagi membuat semua jalanan Jakarta macet parah. Pilihanku lewat tol TB Simatupang tak mujarab. Di pintu tol Cililitan, antrean kendaraan tak bergerak sama sekali. Tiga jam.

Waktu itu, aku mau ke Jogja, ke kampus UGM untuk selesaikan administrasi S2 yang terbengkalai. Pagi berangkat, sore pulang. Itu rencanaku. Untuk menghemat ongkos, aku setir sendiri. Apa daya, aku masih terjebak di Cililitan ketika pesawat yang seharusnya membawaku ke Jogja take off. Tiket promo Mandala Air hangus.

Kali kedua aku berurusan dengan masalah ketinggalan pesawat adalah ketika akan ke Amsterdam, April tahun lalu. Sopir Blue Bird yang nampak ‘udah tua’ ternyata tidak cukup pengalaman dengan jalanan Jakarta. Dia mengiayakan saja ketika aku tanya apakah dia tahu jalan ke Cengkareng lewat pintu belakang, lewat Parung, Ciseeng, BSD, Tangerang, dan Teluk Naga. Nyatanya dia perlu 4 kali menghentikan taxi untuk bertanya arah.

Kami memang sampai airport tepat waktu. Tetapi yang namanya drama kaki gemetar takut ketinggalan pesawat ternyata luar biasa. Untuk tidak membuat pak sopir makin panik, aku berusaha tenang. Tetapi kaki tak kunjung bisa dikontrol. Gemetar dan benar-benar lemes. Sepanjang jalan aku berdoa, minta ampun pada Yang Maha Kuasa atas segala salah selama ini. Loh …. apa urusan salah dan dosa dengan terlambat mengejar pesawat?

Begini ceritanya. Kali ini aku sedang berada di Noi Bai Airport, Ha Noi untuk penerbangan ke Ho Chi Minh (HCM), di Vietnam bagian selatan. Seingatku, penerbanganku adalah jam 14.20. Pakai Vietnam Airlines. Kepada beberapa teman di ICRAF Hanoi, juga resepsionis Lucky Hotel tempatku menginap, termasuk sopir hotel yang membawaku ke airport, aku bilang pesawatku jam 14.20. Aku berangkat jam 12.30 dari hotel .. amaaaannn! Paling lama 45 menit sudah sampai. Apalagi ini penerbangan domestik, pastinya tidak seribet keberangkatan internasional.

Aku tiba di depan counter check in jam 13.13, wow .. angka sial kata orang. Ada 3 penumpang lain sedang antri di depanku. Aku kembali lihat tiket, sekedar mengecek. Lagipula biar tidak bengong menunggu giliran. Masya Alloh! Dosaku apa? Di tiket terbaca jelas, penerbanganku jam 13.30. Layar check in sudah menunjukkan tanda buka check ini untuk pesawat berikutnya. Nomor penerbanganku sudah tidak tertera di layar.

Aku berusaha tenang. "Toh pesawat belum tinggal landas," gumanku dalam hati. Aku pernah mendengar ada pesawat terlambat take off karena harus menunggu penumpang. Aku berharap kali ini akulah yang ditunggu.

Aku segera keluar dari antrian, mendekati petugas bandara, seorang perempuan cantik berbaju khas Vietnam blus terusan warna biru dipadu celana panjang putih dengan radio komunikasi di tangan. Aku ceritakan masalahku. Ia segera menghubungi seseorang dengan radionya. Ada harapan muncul ketika melihatnya tersenyum dan mengajakku ke arah pintu ruang tunggu boarding. Belum genap 5 langkah, seorang lelaki berdasi, juga dengan radio komunikasi di tangan, menghentikan kami. Dia berbicara kepada petugas perempuan yang mengantarku. Nampaknya ada masalah. Terbukti, selesai berbicara, petugas perempuan itu menoleh ke arahku dengan sunggingan senyum kecut di wajahnya yang halus. Aku membaca sebuah pertanda. Matii aku … Ini benar benar ketinggalan pesawat! Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Kalaupun pesawat belum bergerak, pintu pasti sudah ditutup.

Aku teringat dosaku terlalu banyak melirik gadis-gadis cantik Vietnam selama di Hanoi, di Provinsi Bac Kan, dan danau Ba Be. Tapi mereka cantik-cantik sih .. sayang kalau gak dipelototin, hihihihi. Tuhan mungkin memberiku peringatan dengan kejadian ini.

Aku tanya apa yang bisa aku lakukan. Disarankan untuk mengecek penerbangan lain di counter Vietnam Airlines! Aku merasakan butiran keringat mulai bermunculan di sekujur tubuh. Beberapa terasa benar-benar menetes di punggungku. Tiba di depan counter aku bertanya jam berapa pesawat selanjutnya.

“We have 7 more flights to Ho Chi Minh City sir. But because it is weekend, I am afraid, all are already full. Do you want me to put your name on the waiting list?” dengan ramah petugas counter, juga perempuan berwajah manis, memberiku penjelasan. Aku menangkap kilap sinar ‘I am so sorry sir” di wajahnya yang terhias senyum prihatin.

“No choice,” jawabku terpana. Bukan karena senyum prihatin namun tetap manis yang menghias wajah si petugas, tapi karena situasiku sekarang. Kalau tidak bisa terbang ke HCM hari ini, aku membayangkan kesusahan yang bakal terjadi. HCM cuma buat transit ke Manila besok jam 10 pagi.

“Ugh ….. betapa bodohnya aku telah begitu ceroboh,” aku mencaci diri.

Petugas counter itu memintaku datang jam 14.30 untuk mengecek apakah ada seat untuk penerbangan berikut. Aku menjauh. Membuka jaket dan berfikir keras. Udara ruang check in penerbangan domestik Bandara Noi Bai terasa pengap. Lagipula memang tak ber-AC.

Kalau sampai tidak bisa berangkat ke HCM hari ini, pasti kacau. Rencana jalan-jalan keliling HCM bubrah sudah. Aku tidak tertarik lagi untuk jeprat sana jepret sini dengan dua kamera yang aku bawa. Yang sekarang ada di fikiran kalau sampai gagal mencapai HCM hari ini rencana ke Los Banos dan Kalahan (project site ICRAF Filipina) mesti diatur ulang. Gak enak sama teman-teman ICRAF Filipina yang sudah mengaturnya.

Muncul ide untuk memakai pesawat lain. Walau kepikiran bakal ribet urusan refund, juga persediaan duit yang tidak banyak, aku akan coba alternatif ini.

Seorang laki-laki berhem putih lengan pendek dan bercelana panjang biru donker datang mendekat. Dia menegurku dalam bahasa Vietnam. Aku jawab, “Sorry, I don’t understand you.” Tapi kanyaknya dia sudah terbiasa membaca gelagat. Dia tahu tampang calon penumpang sepertiku pasti sedang bermasalah dengan penerbangan.

“Ho Chi Minh?” aku dengar dia berkata. Aku jawab ya.

“Let’s go!” katanya. Hmm .. ini orang mungkin calo tiket, fikirku. Boleh juga dicoba.

Aku mengikutinya ke counter Indochina Airlines.

“Yes, seats are still available,” kata seorang petugas counter laki-laki. Pesawat Indochina Airlines yang ke HCM dijadwalkan berangkat sebentar lagi.

Sesaat kemudian aku lihat seorang petugas perempuan geleng-geleng kepala begitu selesai berbicara lewat radio. Katanya, “You can only take the next flight at 8 p.m. The plane is already closed.”

Toh aku tidak buru-buru fikirku. Asal bisa berangkat ke HCM. Tak peduli malam. Lelaki yang dari tadi kelihatan begitu baik dan sangat ingin menolongku memberi isyarat untuk mengikutinya ke counter JetStar, sebuah penerbangan murah meriah seperti Air Asia.

“We have lots of flights to Ho Chi Minh sir,” kata petugas counter JetStar memberiku harapan.

“Sip … akhirnya bisa cepat berangkat juga nich,” gumanku dalam hati.

“But how much is the ticket?” aku bertanya.

“One million and fifty thousands Vietnam Dong Sir!”

Mati aku! Gak enak juga sama kantor kalau harus beli tiket lain, mahal lagi … padahal di Indochina Airlines, harga cuma 300 ribu dong.

Saat berlalu dari meja counter JetStar, sebuah SMS masuk ke HP-ku. Dari Iva, Joe Travel, Bogor, langganan kantorku. Tadi, ketika sedang panik aku kirim SMS ke Iva cerita situasiku sekalian bertanya apakah tiket Vietnam Airlines bisa refund. Kalau ya, aku mungkin gak akan berat hati banget kalau harus beli tiket lain.

“Iya pak bs d refund,” begitu SMS dari Iva.

Aku jawab Iva dengan SMS singkat “thanks” tapi hatiku kecut juga. Satu juta dong dari JetStar adalah 3 kali lipat harga tiket Indochina Airlines.

Dua menit kemudian, sebuah SMS lain masuk dari Iva.

“Kl mau sy ganti k jam 2030, mau pak?” Iva menawarkan untuk merubah tiketku ke penerbangan terakhir ke HCM.

“Wow .. . ada seat?” sorakku dalam hati. Padahal petugas counter Vietnam Airlines sudah bilang tidak ada seat di semua penerbangan hari ini … Tak ragu aku bilang OK. Syukur Alhamdulillah. Walau berangkat malam … tidak masalah bagiku. Perjalanan ke Filipina tidak perlu diatur ulang.

Aku segera lapor ke counter Vietnam Airlines. Petugas counter perempuan yang tadi aku hubungi segera memeriksa monitor komputer dan mencetak lembaran tiket baru. Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera mencari tempat menunggu. Masih ada waktu 6 jam sebelum penerbanganku. Bukan waktu yang pendek. Aku temukan sebuah sudut.

Belum sempat menurunkan tas, sebuah SMS lain masuk dari Iva, “Pak, ada nih jam 17.00. Aku ambil yaaa.”

Ada nada urgent dalam SMS Iva. Tak menyiakan kesempatan aku jawab, “OK sayang, terimakasih banyak.” Ada penghematan waktu tunggu 3,5 jam.

Aku mencoba memikirkan hadiah apa yang akan aku berikan ke Iva. Sebuah syal sutera khas Vietnam yang baru aku beli hanya 1 jam sebelum berangkat ke airport, yang warnanya oranye, akan menjadi milik Iva minggu depan.

Aku kembali ke counter Vietnam Airlines. Petugas counter mengecek perubahan yang dibuat Iva.

“Yes, your agent has made the change.”

Selembar print out konfirmasi perubahan jadwal penerbanganku dia sorongkan. Aku terima dengan ucapan terima kasih. Dia tersenyum, manis sekali. Aku tak tahu, tetapi kata orang, gingsul membuat senyum seseorang bertambah manis. Gadis counter itu gingsul di kanan. Tetapi yang aku kagumi dari dia adalah kebisaannya memberikan senyum simpati yang tulus (aku bisa baca ketulusan itu di matanya), walau hanya sejenak, untuk kemudian terhapus wajah tegang (atau mungkin konsentrasi penuh) ketika pandangannya kembali beralih ke layar komputer di mejanya.

Jam 15.00 aku check in dan masuk ke ruang tunggu setelah menghabiskan 2 kaleng jus apel dan nanas takut gak lolos pemeriksaan security. Batas maksimal bahan cair yang boleh di bawa ke pesawat adalah 100ml. Karena sayang membuang air dalam kemasan 1.5 liter, aku paksakan minum banyak. Itung-itung buat kesehatan walau perut jadi kembung. :D

Singkat cerita, jam 17.00 penumpang diminta naik pesawat, terlambat 30 menit dari jadwal karena pesawat datang terlambat. Aku sampai bandara Tan Soo Nat di HCM sekitar jam 8 malam. Sudah gelap. Gak banyak yang bisa dilihat. Aku menginap di sebuah guest house yang juga kantor IOM (International Organization for Migration) di dekat Katedral Notre Dame. Malamnya, sebelum tidur aku sempatkan berkeliling di taman sekitar Notre Dame yang dijadian tempat kongkow anak-anak muda HCM. Ramai .. dan jadi pengen muda lagi. He he he.

Tuesday, 21 July 2009

Sinyal Nyambung Terus

Tak pernah sekalipun aku kehilangan sinyal. Kalau bukan dari Vinaphone atau Viettel, maka sinyal Mobitel akan selalu memastikan indikator sinyal layar HP-ku penuh. Bahkan ketika mobil Ford Everest yang aku tumpangi perkasa menelusuri punggung dan kaki bukit di wilayah pegunungan utara Vietnam, sinyal tak pernah lenyap. Beberapa tower penguat sinyal terlihat menjulang dari kejauhan, kesepian di tengah belantara pegunungan Provinsi Bac Kan, satu dari 63 provinsi di Vietnam, negara yang baru aku kunjungi 3 hari ini.

Aku dan teman-temanku, Thanh, Sa, dan Rhi dari ICRAF Vietnam sedang dalam perjalanan membuat video tentang Program RUPES atau program imbal jasa lingkungan di Vietnam. Siang tanggal 20 Juli, kami merekam wawancara dengan Deputy Chairman (Wakil Gubernur) Provinsi Bac Kan serta kepala pelaksana proyek bantuan IFAD di kota Bac Kan. Kami ditemani dua kameraman, Banh dan Luet, bapak dan anaknya.

Pagi sebelumnya, kami berjuang keras selama 2 jam lebih untuk bisa keluar dari Ha Noi yang beberapa ruas jalannya terendam banjir akibat hujan semalamam. Walau sering mendengar cerita banjir Jakarta, berada di tengah-tengah air setinggi sepertiga mobil terasa mengkhawatirkan juga. Beberapa motor dipaksa pengendaranya 'mengarungi' jalanan di depan stasiun kereta api Ha Noi. Aku lihat beberapa terjungkal karena lubang yang tidak kelihatan. Banyak yang hanya berani menuntun motor. Walau terlihat stres dan kedinginan dalam jas hujannya, mereka tampak cukup sabar mencari celah untuk bisa melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.

Menurut Banh, banjir seperti hari ini terjadi sekitar sebulan lalu. Apalagi kalau musim hujan, maka Ha Noi seperti menjadi langganan banjir.

"Akibat sistem drainase kota yang tidak baik," katanya.

Aku agak menyangsikan penjelasan Banh karena aku yakin pemerintah kolonial Prancis yang membangun Ha Noi dengan arsitektur dan perencanaan gaya Prancis mestinya sudah memperhitungkan sistem drainase dengan detail. Cuma memang tidak bisa dipungkiri, perluasan kota dewasa ini mungkin tidak diikuti dengan pembangunan sistem drainase kota yang memadai. Sesuai namanya, Ha Noi, dalam bahasa setempat berarti Dalam Air, mungkin akan selalu terendam air, paling tidak di beberapa bagian kota.

Kembali ke sinyal HP, aku mau cerita betapa kini kita sangat leluasa berhubungan dengan teman dan kerabat di tanah air walau sedang di luar negeri. Layanan SMS antar negara yang dibangun Telkomsel dan provider jaringan di banyak negara ternyata sangat ces pleng. Begitu sampai di tujuan, kartu Telkomsel akan segera terhubung dengan jaringan setempat. Dari Singapura, biaya SMS Simpati sebesar Rp. 3.500. Dari Vietnam lebih murah, hanya Rp. 2.500. Seorang teman bercerita, dari India harganya Rp. 5.000 per SMS. Walau agak mahal, tidak jadi soal karena dengan SMS, teman dan keluarga terasa dekat.

Saat menulis cerita ini, aku sedang berada di Post Office Guest House, penginapan yang berlokasi di depan pintu masuk Ba Be National Park, sekitar 270 km utara Hanoi. Danau Ba Be, danau tertinggi di Vietnam, terletak dalam kawasan taman nasional ini. Aku berencana mengunjunginya sebentar lagi. Janjian dengan Thanh, jam 5.30 pagi ini kami akan naik motor ke sana.

Tunggu ceritanya ya ..

Tambahan dikit:
Fasilitas penginapan: AC, Kipas, TV, air panas, kloset duduk, kelambu (takut ada nyamuk, walau menurutku tidak ada sama sekali), dan WIFI!

Bayangkan, WIFI di tengah gunung. Kalau nggak, mana bisa upload cerita ini. Bener-bener dech Vietnam, kemajuannya luar biasa. Sinyal nyambung terus.

Tapi ada yang paling penting dari semua ini. Kalau yang ini gak ada, wifi dll pasti mampus dech. Apa gerangan? Listrik. Ya .. aku sempat bermobil menelusuri perbukitan yang lebih tinggi lagi, sampai jumpa dengan tiang listrik terakhir, yang gak ada sambungannya lagi. Pemerintah Vietnam memang sangat gemar membuat rumah rakyatnya terang. Rasanya aneh melihat komputer nyala di satu-satunya rumah di sebuah puncak bukit.

Mengenai jalan, tak habis 10 jari tangan menghitung lubang di sepanjang 270 km aspal mulus dari Ha Noi ke Ba Be. Dan yang paling menyenangkan, walau di jalan perkampungan atau perumahan ramai, gak ada polisi tidur sama sekali!

Sunday, 19 July 2009

Halal di Luar Negeri

Bila anda muslim dan ingin menghindari makanan tidak halal selama perjalanan, terutama ke negara non-muslim, berikut ini ada beberapa tips.

1. Beberapa penerbangan, misal SQ, menerima pesanan menu tertentu. Pastikan travel agen anda memesan makanan halal jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan berangkat. Seminggu sebelumnya kayaknya bisa.

2. Search internet tentang warung makan atau restoran yang dianggap halal berdasarkan pengalaman traveler lain. Ada banyak kok.

3. Bila tidak sempat cari referensi, terpaksa anda makan apa adanya. Usahakan pilih menu ikan. Anda juga bisa masak sendiri secara sederhana. Beli telur atau kacang-kacangan. Rebus di hotel memakai alat pemanas air yang disediakan (atau anda bawa sendiri). Jangan lupa buah-buahan semacam pisang atau anggur. Mampir ke supermarket membeli biskuit atau makanan kaleng yang sama seperti yang biasa anda makan di Indonesia.

Contoh: Di Ha Noi, saya membeli telur ayam 6 biji seharga 10.000 dong. Lalu saya rebus di kamar pakai pemanas air. Saya juga beli pisang di pasar. Beberapa biskuit mirip biskuit yang di Indonesia, juga minuman, susu, dll, saya beli di supermarket kecil dekat hotel. Selama di pesawat, saya selalu minta menu ikan karena menyangsikan kehalalan menu daging/ayam.

Naik Ojek di Ha Noi

Semalam aku ketiduran, padahal baru jam 7 malam. Mungkin kecapean karena sejak berangkat dari Depok, aku belum sempat tidur yang benar-benar pulas. Sebelumnya, temanku Hien sudah menyempatkan diri telpon mengingatkan aku untuk nonton puppet show di dekat danau Hoan Kiem yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel tempatku menginap.

Rasanya menyesal melewatkan kesempatan malam itu hanya dengan tidur. Apalagi menurut sebuah cerita yang aku baca di internet, pertunjukan puppet show ini sangat khas dan menyenangkan. Gak apalah, semoga nanti malam ada jadwal. Aku akan nonton.

Pagi tadi, jam 6 kurang, aku bangunkan penjaga hotel yang tidur beralas kasur depan meja resepsionis. Rolling door pelindung pintu kaca hotel masih belum digulung. Hanya ada sedikti celah di bagian bawah. Dengan malas petugas hotel membukakan pintu. Aku pamit mau ke danau Hoan Kiem.

Danau Hoan Kiem adalah satu dari beberapa danau kecil (di Jakarta dikenal dengan sebutan situ) yang bertebaran di kota Ha Noi. Taman sekeliling danau digunakan penduduk sekitar untuk tempat senam pagi / tai chi. Biasanya mereka datang berombongan membawa tape recorder dan pengeras suara. Mereka bersenam mengikuti irama lagu atau petunjuk dari kaset. Pengunjung lain akan bergabung ikut senam. Yang lain, kebanyakan lansia, duduk-duduk di bangku beton yang disediakan, ngobrol sesama teman, menunggu mata kail disambar ikan, atau jalan cepat memutari danau yang berjarak keliling sekitar 1.5 km.

Aku ikut-ikutan gerak badan mengikuti musik sambil berjalan berkeliling danau. Tak lupa aku foto beberapa gedung tua di seberang danau. Bangunan khas peninggalan masa kolonial Perancis.

Seorang tukang ojek melihatku mengambil foto. Dengan senyum malu-malu dia menawarkan diri mengantarku berkeliling kota. Aku tertarik. Kalau jalan kaki, aku mungkin tidak bisa mengunjugi beberapa tempat terkenal di Ha Noi. Aku tanya berapa, dia jawab, ‘paiv sosand’. Wah murah sekali fikirku. Lima puluh ribu dong untuk keliling kota. Kurang dari 50 ribu rupiah. Tapi aku masih coba tawar. Aku bilang 2. Dia jawab “No.”. Aku tawarkan 4, dia tunjukkan 4 jari tangan kiri dan 5 jari tangan kanan. Aku mengartikannya 45 ribu. Aku setuju, dia senyum.

Singkat cerita, aku diajak berkeliling keluar masuk perkampungan kota Ha Noi yang jalanannya tertata rapi. Sayang sekali si tukang ojek ini tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Jadilah kami ngobrol bahasa sendiri sendiri. Aku ngomong bahasa Indonesia dia asyik dengan bahasa Vietnamnya. Isyarat-isyarat Tarzan berlaku. Kami ketawa bersama kalau merasa saling pahami. Kami berkeliling kota mengunjungi Mausoleum Ho Chi Minh, cuma di halaman depan, gak masuk karena belum buka (belum jam 7 pagi), lalu lalu ke sebuat tempat peribadatan kuno (pagoda) besar di jalan Van Mieu - Quoc Tu Giam, mampir beli pisang dan telur di pasar, ke Gedung Opera, dan terakhir masuk ke Museum Revolusi Vietnam. Kebetulan udah buka. Tepat jam 8 pagi. Selesai berkeliling di museum membaca sejarah perjuangan bangsa Vietnam, aku ajak tukang ojek kembali ke Hotel.

Nah .. perjalanan setengah hari ini ternyata harus berakhir dengan kurang menyenangkan. Aku sudah menduga ini akan terjadi ketika beli pisang. Pisang 1 sisir dihargai 30.000 dong. Bagaimana mungkin ojekku berharga 50.000 dong saja?

Mengantisipasi hal-hal yang tidak didinginkan terjadi, aku minta diturunkan 10 meter dari depan hotel. Segera saja aku menyadari kecurigaanku benar. Si tukang ojek, sebenarnya dia baik sekali, bilang ‘seven hundred’ ditambah dengan isyarat muter-muter keliling kota dan menunjukkan aku jam tangannya. Kepalaku senut-senut. Aku memahami apa yang diisyaratkannya. Biaya 700 ribu dong karena kita berputar kota selama 3 jam. Aku pura pura tidak paham. Aku kasikan lembaran 50.000 dong. Dia terima tapi dengan wajah geleng-geleng dan alis mengernyit. Aku pura pura bego dan keluarkan lembar 100 ribu. Dia ambil dan minta lagi. 5 lagi katanya. Walah .. mati aku .. duit di saku cuma ada 270.000 dong. Aku kasikan semua. Tapi dia tetap minta lagi. Aku sampai tunjukkan semua sakuku kosong. Aku gak bawa dompet. Gak bawa pasport. Gak bawa apa apa kecuali kamera saku. Aku tawarkan rokok. Dia menolak sambil berkali kali mengeleng-geleng seperti menyesali kejadian ini. Lama kami berargumentasi sampai beberapa orang di kejauhan seperti memperhatikan. Aku keringat dingin. Malu. Untungnya si bapak menyerah. Dia geleng-geleng keras samil berjalan ke arah motornya mengambil pisang dan telurku. Dia tolak tawaranku untuk ambil pisang dan telur. Begitu dia menstarter motor aku lega. Aku bilang sorry. Dia tidak menoleh dan segera berlalu.

Ah .. kepalaku jadi sakit. Malu dan menyesal ceroboh urusan mata uang Vietnam. Jalan-jalannya jadi kurang happy ending dech. Atau barangkali happy ending-kah? Membayar hanya Rp. 150an ribu untuk putar-putar Hanoi 3 jam?

Ha Noi Tak Memandangmu

Ada sesuatu yang menarik di Ha Noi. Ini aku rasakan sejak pertama kali menjejakkan kaki di Airport No Bai, Ha Noi. Di sini orang-orang tidak menatap kita. Lain sekali dengan di Jakarta dimana orang-orang memandang kita bahkan sampai seperti sedang memelototi saja. Apalagi bila kita berpenampilan berbeda. Tidak hanya di airport Cengkareng, ketika keluar dari pintu kedatangan, di tempat lain juga seperti itu. Entah di pasar apalagi di jalan. Rasanya tatapan orang selalu mengikuti.

Di Ha Noi, aku tidak merasakan tatapan itu. Ketika berjalan pagi keliling Danau Hoan Kiem di bagian Old Hanoi, aku merasa aman dan nyaman. Walau bagaimanapun, kulit gelap wajahku pasti terlihat berbeda dengan wajah penduduk Ha Noi kebanyakan. Tetapi aku merasa tidak seorangpun tertarik untuk 'mentlengi.' Barangkali malah aku yang 'melotot'. :D

Di Ha Noi, orang-orang juga tidak 'mendekat'. Beberapa sopir taksi memang ada mendekatiku ketika keluar dari No Bai. Mendengar jawabanku "No" sudah cukup membuat mereka berlalu. Tidak terasa nuansa memaksa menawarkan taksi mereka. Lain sekali bukan dengan yang di Jakarta? Di Cengkareng aku pernah mencoba, ini betul-betul mencoba karena aku lakukan dengan sadar. Aku berteriak keras pada beberapa sopir taksi yang mengerubungi, "Bagaimana ini Paaaaak! Saya sudah berkali-kali bilang NGGAK kok masih saja nawari taksi. Apa tidak paham arti Nggaaaak?". Setelah itu mereka baru pergi.

Ketika window shopping di toko-toko souvenier di sekitar hotel, aku juga merasakan rasa aman yang nyaman. Tidak ada kekhawatiran akan copet. Tidak merasa perlu takut tiba-tiba seseorang menegur menawarkan dagangan. Rasanya bebas mengamati barang walau tak membeli. Ada juga sih yang menawarkan masuk ke dalam melihat koleksi di lemari. Tetapi mereka melakukannya dengan sopan dan senyum. Sekali lagi tidak ada nuansa memaksa di dalam nada dan cara mereka menegur. Yang sedang kongkow-kongkow di kaki lima menikmati makanan berkuah khas Vietnam (kayaknya namanya Pho) juga seakan tidak merasa perlu memandang ke orang lain. Belum pernah aku menangkap kerlingan atau lirikan menyelidik dari salah satu mereka. Rasanya gak perlu khawatir dilihatin dech.

Nah itu dia hal yang menurutku menarik sekali untuk diceritakan di blog ini. Semoga bikin yang belum pernah ke Ha Noi tidak takut untuk datang.

PS: Sedikit lagi sebagai perbandingan. Aku pernah jalan-jalan di Nairobi. Di sana terasa 'menakutkan'. Beda dengan di Addis Ababa yang rasanya kayak di Bogor saja. Di Amsterdam beda lagi. Di sana memang tidak ada yang melotot ke arah kita, tapi rasanya tetap dingin (tidak warm), dan sedikit gak aman. Mungkin karena waktu di Amsterdam, aku gak punya duit banyak .. rasa gak aman timbul karena takut gak bisa pulang bila kehabisan duit. Hihihihi.

Saturday, 18 July 2009

Welcome to Ha Noi

Tanpa terasa, aku sudah berada di Ha Noi. Padahal tadi pagi aku masih di rumah Depok. Rasanya sedikit aneh. Ke Anyer atau sekedar ke Ancol malah terasa lebih jauh dan melelahkan.

Saat ini aku sudah di hotel. Nama hotelnya bagus. Lucky Hotel. Terletak di Hang Trong Street, di bagian tengah Ha Noi. Begitu masuk kamar, langsung buka laptop dan konek ke wifi. Begitu mudah dan nyaman.

Jam 2.30 pagi tadi aku berangkat ke airport pakai taksi Expres. Jalanan sepi banget walau siang sampai malam dilaporkan macet dimana-mana karena peristiwa bom Marriott Jumat pagi. Tiba di airport Cengkareng disambut guyuran gerimis. Pintu masuk ke ruang check in SQ belum buka. Aku kepagian. Biasanya buka sekitar jam 4 pagi.

Selesai chek in aku langsung ke imigrasi, lalu nunggu subuh di musholla. Perjalanan ke Singapore tidak ada masalah sama sekali. Perut penumpang dimanja sarapan nasi goreng ikan dan jus buah. Sekitar 1.5 jam kemudian, pesawat mendarat di Changi, di terminal 3. Aku segera naik Sky Train menuju terminal 2 mencari Gate F58 tempat SQ yang menuju Hanoi menunggu. Aku telat dikit. Buktinya, begitu keluar dari pintu Sky Train seorang petugas bandara sudah menunggu, berteriak bertanya, "Ada yang ke Hanoi?"

Segera aku melaporkan diri dan diminta naik mobil listrik diantar ke Gate F58. Petugas perempuan yang nyetir sangat ramah. Asyik dan nyaman, gak perlu berlari-lari ngejar pesawat seperti beberapa waktu lalu ketika aku lewat Changi.

Perjalanan ke Hanoi dari Changi memakan waktu 2 jam 40 menit. Makan siang mantab. Ditambah es krim dan snack. Juga minuman. Aku gak minum wine .. jadi gak bisa foya-foya kayak beberapa penumpang lain. He he he. Foya foya cukup pakai jus apel aja.

Sampai di airport Ha Noi, aku antri melaporkan diri di imigrasi. Aku tanya apakah aku harus bayar. Nampak petugas imigrasi ragu. Dia menjawab dengan bahasa Inggris yang gak jelas. Lalu aku tunjukkan 100 dolar. Dia bilang 10. Lalu karena dia gak punya kembalian dia bilang ke belakang aja ya. Aku ke belakang booth pemeriksaan dokumen. Dia buka pintu dan minta duit rupiah saja. Aku gak ngeh. Tapi aku carikan 50 ribu. Dia terima tapi ketika aku minta kwitnsi dia kembalikan duitku. Akhirnya aku paham, dia mau minta duit. Lalu katanya, "souvenier". Oh .. baru aku ngeh. Untung punya lembaran 10 ribu. Udah lecek. Dia terima dan bilang terimakasih lalu masuk kembali ke boothnya melanjutkan kerjaan ngecap paspor orang ... ha ha ha lucu.

Yang menarik di airport Ha Noi adalah kegiatan antisipasi pandemi flu babi. Di Changi kami dibagikan lembaran merah untuk diisi mengenai data kondisi badan dll. Di Ha Noi lembaran merah dikumpulkan pada beberapa petugas yang sudah jaga. Aku saksikan beberapa peralatan dasar semacam P3K juga disiapkan di meja khusus di depan sebuah posko bertuliskan Health Check. Dua kamera CCTV merekam setiap penumpang yang melintas. Aku kagum dengan langkah otoritas kesehatan Vietnam karena gak pernah lihat yang seperti ini di tempat lain.

Setelah menukar dolar (1 USD = 17.600 dong) aku keluar airport. Sudah ditunggu sopir hotel yang sudah dipesan teman untuk datang menjemputku. Wah asyik ... mobilnya sedan hitam Toyota .. masih baru dan terasa nyaman ... ha ha ha. Biaya sekitar 270.000 dong.

Pusat kota Ha Noi terletak sekitar 45 menit dari airport. Jalan akses ke kota telihat baru dan ramai namun lancar banget. Di sepanjang perjalanan yang terlihat adlah sawah dengan padi yang masih hijau. Memasuki pinggiran kota mulai banyak sepeda motor. Kiri kanan jalan berisi rumah-rumah penduduk yang cenderung dibangun ke atas, bertingkat 3 atau 4. Beberapa bangunan mengadopsi model rumah gaya kolonial. Aku suka sekali melihatnya.

Sopir yang membawa aku, namanya Kwan, bisa berbahasa Inggris dan kami ngobrol santai. Dia ramah sekali. Aku merasa aman. Sesampai di hotel aku kasi dia tip 20.000 dong, gak banyak, cuma sekitar 1 USD he he. Dia bilang terimakasih.

Udah ah ceritanya ngalor ngidul. Ntar dilanjut ya. Aku mo sholat zuhur, lalu jalan jalan di sekitar hotel lihat lihat suvenir.