Thursday, 19 June 2008

GM 1 - Wajah

Terakhir yang aku ingat tentang Goenawan Mohamad adalah wajahnya yang kelihatan mulai menua. Aku lihat di layar televisi ketika itu, wajah yang kelihatan kuyu, rambut berwarna pudar tak disisir, serta kumis berewok tak terawat. Khas wajah orang kurang tidur dan banyak fikiran. Kalau tidak salah, saat itu adalah ketika Tempo – majalah berita mingguan yang ia asuh – sedang bermasalah dengan pemerintah. Soeharto berniat membredel Tempo.

Diam-diam aku merasa sedih. Sedih atas keadaannya. Aku tidak kenal dia. Aku hanya tahu namanya kerap muncul dalam diskusi kelas bahasa kami di sekolah. Nama Goenawan Mohammad atau biasa disingkat GM disebut sebagai salah satu sastrawan besar yang dimiliki bangsa ini. Mungkin aku menaruh simpati karena mendengar keberaniannya menyoal berbagai ketidakadilan yang dialami negeri ini. Kala itu, tidak banyak orang berani bersuara nyaring. Sebagai mahasiswa yang ikut kejar-kejaran dengan militer sebelum Soeharto tumbang, aku menganggap GM wakilku bersuara.

Aku pernah lihat foto wajah GM di majalah Tempo di perpustakaan daerah kami, tahun 90an. Tampan. Bersih dan berkarakter kuat. Tidak ada ketakutan dalam sorot matanya yang tajam. Kedalaman berfikir tergurat dalam keseluruhan urat wajah. Belakangan, aku ingat GM mulai sering memakai kopiah hitam memberi aksen pada wajahnya yang masih tetap terlihat tegas.

Tentang kopiah, betapa aku naif waktu itu. Aku anggap aksesoris hitam itu sebagai identitas peningkatan religiusitas. Aku sempat merasa GM cenderung atheis dari beberapa tulisannya di Catatan Pinggir yang sering menggunakan kata-kata dari bahasa Rusia dan berceritra tentang Lenin Stalin dengan sangat fasih. Aku bukan satu-satunya orang yang dibodohi kampanye pemerintah orde baru bahwa segala yang berbau Rusia adalah identik dengan komunis, dan komunisme identik dengan atheisme. Lagi pula, apa yang salah dengan atheisme?

Setelah era kopiah itulah GM, dalam ingatanku, mulai identik dengan wajah tak terurus. Kronologi perubahan, dari wajah klimis dan kuat, berkopiah, dan lalu menua tak terurus, sangat membekas di fikiranku. Bisa jadi aku salah. Salah ingat dan salah membuat gambaran. Perubahan itu mungkin hanyalah proses alami seiring bertambahnya usia seseorang. Tetapi bagi aku yang cenderung visual, hal itulah yang aku ingat tentang GM, sampai kemarin (19/6) aku bertemu langsung dengannya. Aku beruntung berkesempatan menjadi sedikit orang dari kelas Pantau yang mendapat kuliah tentang menulis langsung dari GM di Komunitas Utan Kayu di kawasan Jakarta Timur.

Kali ini, aku melihat langsung wajah kuyu dengan rambut-rambut kumis dan berewok tak terawat itu. Namun kuakui melihat wajah itu lengkap dengan tubuh tempat ia tersematkan memberi kesan berbeda. Apalagi setelah mendengar langsung ungkapan demi ungkapan sarat makna meluncur lancar dengan artikulasi apik tertata. Wajah kuyu menjadi hidup. Kekuyuan dan ketidakberaturan hanyalah kosmetik. Usia ternyata tidak mempengaruhi rima berfikir dan berbicara seorang GM. Barangkali GM sekedar kurang tidur.

Aku suka mengamati mata penulis. Kulit belakang sebuah buku kadang memuat foto penulisnya. Aku suka memandang mata yang ada di foto tersebut. Nancy Pelusso, peneliti Amerika yang melakukan studi ekologi politik permasalahan kehutanan di daerah Blora Jawa Tengah, memiliki mata riang tetapi tegas. Dia memerlukan mata itu dalam berinteraksi dengan masyarakat Jawa yang tinggal di pinggiran hutan, juga dengan aparat kehutanan di lokasi penelitiannya. Perhatikan mata arif Paulo Coelho yang terkenal dengan the Alchemist. Pandangan Ayu Utami mengandung kegusaran dan perlawanan. Mata jenaka yang memandang dunia dengan tersenyum adalah milik Malcolm Gladwell penulis buku Tipping Point.

Tak terganggu gelambir yang nampak berat menggayut, mata GM memancarkan keteguhan hati dan kedalaman berfikir. Mata yang keras dalam kemarahan, tapi penuh kasih dan kelembutan terhadap sesama. Mata orang berilmu diwarnai kerendahan jiwa. Wajah boleh berkeriput dan rambut berubah warna. Namun mata itu tidak akan kehilangan sorotnya. Aku berdoa semoga GM dikarunia usia panjang dan terus berkarya membangunkan anak negeri bangkit dari kebodohan.

1 comment:

living silence said...

hehehe.. GM yah.., sosok yg unik. Bahkan seorang teman cewe gue berkata " kok gue jadi merasa aneh ya, waktu tatapan dia (GM) mendarat di tubuh gue " ... ya itulah GM :D