Wednesday, 31 July 2019

No More Blogspot

Kemarin aku buat keputusan bahwa aku akan lebih banyak aktif menulis di Wordpress. Alasannya, penampakan layar edit di Blogspot ini tidak menarik. Bikin ill feel dan inspirasi menulis bisa terganggu.

Jenis font layar edit ini bagiku juga tidak menarik. Terlalu kecil. Tidak cocok bagi bapak-bapak usia hampir lansia. Kalau di Wordpress, ukuran fontnya pas dan jenis font yang dipakai juga bagiku inspiratif. Bikin ide-ide bermunculan dengan indah.

Mungkin ini masalah pengaturan saja. Tapi aku lagi malas atur-atur. Pinginnya siap saji. Lagipula di sini kaku. Blogspot seperti diam saja. Tak ada dialog. Tak ada keriangan. Seperti tak ada emosi. Bagaimana bisa membuat jari tangan lincah bila hati tak dihiasi emosi?

Hari ini aku juga putuskan untuk menulis di Blogspot, bila sedang pingin saja, hanya tentang topik-topik tertentu. Tetapi topik apa .. itu belum aku putuskan.

Dengan demikian aku ingin berucap good bye pada tagar #SehariSejudul. Tidak akan muncul lagi di Blogspot. Karena tulisan remeh-temeh akan lebih banyak muncul di Wordpress.

Topik remeh-temeh? Apakah itu berarti di Blogspot yang diakomodir hanya tulisan serius? Bisa saja. Tulisan yang menerapkan kaidah-kaidah jurnalisme beneran, ada referensi, ada verifikasi, ada riset pendahuluan, ada covering both sides, dll.

Wah jadi punya ide nih .. Barnagkali begitu saja. Tulisan di Blogspot aku atur minimal satu dalam sebulan, tetapi isinya serius, tak hanya pendapat pribadi, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Bisa gak ya?

Lalu kalau demikian, kalau disetujui bahwa di sini adalah tulisan yang menggunakan teknik-teknik jurnalisme beneran, lalu tentang topik apa?

Akan cenderung ke topik-topik sosial pembangunan dan juga kewirausahaan, dari kegiatan-kegiatan yang aku tekuni saat ini. Akan lebih mudah menulis hal-hal yang menjadi bagian aktifitas sehari-hari kita bukan?

Let's see ..

Sunday, 21 July 2019

Kategorisasi Tulisan Blog?

Ternyata hari ini sudah enam hari sejak terakhir aku menulis di sini. Gila. Hampir seminggu berlalu tanpa ada karya. Tak ada tulisan mampir di blog ini.

Hal ini sebenarnya bukan karena tak punya ide, tetapi karena ndak sempat saja.

Tanggal 16-18 Juli lalu sedang di perjalanan. Tak bawa laptop buat menulis. Lagipula kesibukan selama di perjalanan barangkali tak akan memungkinkan buat menulis. Setelah itu, pulang, dan sesampai di rumah, sibuk wira wiri mengurus diri dan keluarga. Berobat ke Puskesmas dll. plus berbagai urusan lain.

Lengkaplah sudah. Tak bisa nyaman duduk lama di depan komputer. Baru mulai ketik judul sudah ada panggilan antar sekolah. Lalu ada permintaan antar jemput ke sana ke mari. Dekat dan jauh dari rumah. Kegiatan fisik yang padat, yang tidak menyisakan waktu untuk duduk diam merenung dan mengetik.

Yaa begitulah hidup. Mungkin bila tidak dapat MEMAKSA DIRI untuk menyediakan waktu sejam dua jam HANYA UNTUK MENULIS .. tanpa boleh ada gangguan .. maka hal seperti ini akan selalu terjadi. Tak ada tulisan tercipta.

Tak apalah .. Ini jadi pelajaran. Barangkali setelah ini aku bisa membuat tulisan di punggung. JANGAN DIGANGGU. SEDANG MENULIS. Supaya orang lain tak mendekat dan mengganggu.

Omong-omong tentang hal ini, aku tadi punya ide untuk membedakan topik tulisan di BLOGSPOT supaya tidak rancu dan kacau dengan yang di WORDPRESS.

Saat ini, aku menulis seri #SehariSejudul di dua tempat tersebut tanpa ada pembedaan. Tulis ya tulis saja. Kalau sudah nulis di Worpress, ya selanjutnya giliran nulis di Blogspot. Supaya adil. Tapi tak ada pembeda antar kedua tempat menampung tulisan ini.

Saat ini aku berfikir bahwa aku harus membedakan kedua blog tersebut. Entah dalam artian topik atau gaya menulis. Entahlah. Tapi harapannya dengan demikian akan memudahkan diriku menulis.

Misalnya, biarlah Wordpress untuk menulis tentang hal-hal serius, atau sebaliknya. Atau Blogspot dikhususkan untuk menulis dengan disiplin jurnalisme yang pernah aku pelajari. Ada sumber, referensi, verifikasi, dll. Lalu di Wordpress cuma buat pendapat pribadi atau sekedar curhatan. Atau bagaimanalah .. Pokoknya dibedakan ...

Baiklah .. Sambil jalan aku akan pikir tentang hal ini. Tetapi saat ini aku memang merasa sangat perlu membuat pembeda. Supaya lebih mudah fokus atau proses menulis punya pedoman.

Kalau sekarang kedua blog tersebut merupakan tempat menampung segala hal, maka untuk selanjutnya kedua tempat ini mestinya bisa dibedakan berdasaran jenis topik atau kedalaman atau kualitas tulisannya.

Barangkali begitu? Semoga bisa ..

#SehariSejudul

Monday, 15 July 2019

Kering Ide, atau Malas Saja?

Seminggu terakhir aku selalu menulis pagi-pagi selepas sholat subuh. Aku berharap bisa menjadikan rutinitas tersebut sebagai kebiasaan bagus. Menulis tiap pagi.

Saat pagi seperti itu, fikiran terasa tenang. Belum diramaikan urusan-urusan. Kalaupun mau berurusan atau memulai urusan, harus nunggu agak siangan. Paling cepat jam 6.30, saat Aya berteriak minta diantar sekolah.

Saat pagi seperti itu, dunia juga masih senyap. Tak ada keramaian suara motor lalu lalang di jalanan depan rumah. Bisa konsentrasi dengan bagus. Badan juga segar, baru bangun dari istirahat malam, tenaga mengetik masih maksimal.

Tetapi hari ini .. pagi seperti itu terlewat. Tak ada tulisan tercipta. Kenapa?

Aku ingat saat bangun tidur aku punya ide buat tulisan (saat ini aku tidak ingat lagi apa ide tersebut). Tapi dengan bekal ingin menuliskannya, aku bergegas bangun dari pembaringan, ambil air wudlu, dan setelah sholat .. aku lupa harus menulis. Aku juga lupa apa yang ingin aku tulis. Aku pergi naik motor belikan Aya sarapan. Ini hari pertama dia masuk sekolah setelah libur panjang.

Apakah karena beli sarapan tadi lalu aku lupa mau menulis apa? Entah apa yang pasnya terjadi tadi pagi, aku tak begitu ingat. Tetapi kemudian ada juga muncul ide untuk menulis agak siangan. Tak terwujud juga. Apakah karena idenya kurang menarik? Atau bahannya kurang? Atau aku masih mikir-mikir untuk cari ide lain? Lalu kelupaan lagi karena kesibukan urus yang lain?

Menulis bisa terhambat gara-gara tidak ada ide. Atau karena ide kurang kuat? Atau tak punya bahan mendukung ide penulisan? Atau karena malas saja?

Malas? Barangkali iya juga. Wah .. kalau ini benar, dan kalau kegagalan menulis pagi-pagi hari ini karena malas, maka ini berarti merupakan peringatan keras. Bila terus menerus, dan tak bisa ditanggulangi, maka ide 365 judul dalam setahun bisa-bisa gagal.

Apakah aku mau gagal?

Tidak .. Aku akan buktikan bahwa aku punya kemauan besar dan kuat untuk mewujdukan apa apa yang ingin aku wujudkan. Lagipula ini cuma sekedar nulis blog. Segitu aja gagal? Gara-gara malas? Jangan deh.

#SehariSejudul

Sunday, 14 July 2019

Nyetir Sendiri Atau Pakai Kereta?

Minggu depan aku perlu ke Jakarta. Antar Syarrifa daftar ulang kuliah. Rencana awal adalah pakai Zafira. Rasanya lebih nyaman bawa mobil sendiri. Leluasa angkut semua kebutuhan selama perjalanan. Aku suka bawa radio Sony punyaku kemana-mana. Juga baranag-barang lain yang kadang tak begitu diperlukan tapi bikin senang. Bawa mobil sendiri bisa muat semua.

Sejak beberapa hari ini, Zafira sudah aku siapkan. Ganti kampas rem yang sudah hampir habis. Lalu ganti sensor 02. Flush oli transmisi matik. Pasang booth as roda kiri. Terakhir ganti ban. Tetapi mungkin sebelum berangkat akan perlu cek blower AC kabin belakang yang tiba-tiba mati, plus ganti beberapa selang (radiator dan oli transmisi) yang kelihatan rembes. Tak lupa cek seat belt jok depan yang berkelakuan aneh.

Oh iya, Zafira itu apa?

Zafira adalah mobil penumpang bikinan Chevrolet. Seven seaters kata orang. Punyaku ini tahun 2001. Matik. Gerobak tua. Sering masuk angin dan perlu banyak pijat. Kata dunia otomotif, Zafira suka rewel. Bagiku tentu saja hal tersebut benar sekali. Apalagi sekarang dia sudah berusia 18 tahun. Kalau ukuran manusia, mungkin usianya sekitar 55 tahun. Sudah mulai uzur. Tetapi kalau masalah handling dan kenyamanan ngebut, jangan ditanya deh .. hahahaha.

Aku hitung biaya perjalanan pakai Zafira sebagai berikut.

Bensin 1.4 juta (Ukuran 1 liter 10 km)
Tol: 700 ribu (semarang - Jakarta)
Nginap 1 malam: 400 ribu (lebih kurang)
Makan dll: 500 ribu (hemat murah meriah)

TOTAL: 3 Juta

Selain keuntungan bisa bawa barang apa saja yang ingin dibawa, termasuk bawa bibit sirsak yang sudah aku semai sejak dua bulan lalu, buat ditanam di Rumah Depok, perjalanan dengan mobil sendiri itu asyik, terutama bagi yang suka nyetir kayak aku. Tak terjelaskan deh senangnya nyetir, lihat pemandangan kiri kanan, mengamati jalan dan kendaraan lain, berhenti sesekali di suatu tempat, pokoknya bagiku perjalanan seperti itu mengasyikkan, adventurous.

Dua hari menjelang keberangkatan, istriku mengajukan alternatif. Bagaimana kalau perjalanan pakai kereta saja? Keuntungannya lebih hemat. Capek atau kelelahan (maklum sudah usia) plus resiko mobil tua bisa dihindari. Lagipula tujuan ke Jakarta cuma satu hal: antar daftar ulang plus cek kamar kos (bila masih ada waktu). Kos sudah dicarikan Lita, sepupu Syarrifa, kemarin. Sudah kami DP dan pelu dikunjungi.

Pikir-pikir, alternatif ini ada baiknya juga. Lalu aku berhitung:

Tiket Argo Muria PP berdua: 600.000 x 2 = 1.2 juta
Menginap 2 malam = 350 x 2 = 600 ribu
Makan plus ongkos dalam kota = 1 juta

TOTAL: 2.8 juta

Dari segi biaya, tak banyak perbedaan. Tetapi bila mempertimbangkan potensi resiko yang disebut istriku bila pakai Zafira, maka akhirnya diputuskan untuk jalan pakai kereta saja.

Yaaah .. gak jadi deh jalan-jalan asyik. Mungkin next time deh. Lagipula di kereta bisa tenang baca buku. Aku rencana bawa beberapa buku.

Demikian sekelumit cerita buat ngisi blog. Hahaha.

#SehariSejudul

Saturday, 13 July 2019

Story About Blog

Beberapa hari lalu, dalam perjalanan ke Semarang bawah, aku, Aya, dan Syarrifa bersahut-sahutan dengan bersemangat membahas tulisan kami di blog.

Aya bilang merasa malu sekali dengan penemuannya di Google Search saat mengetik nama lengkapnya. DITEMUKAN blog yang dia tulis waktu SD, sepuluh tahun lalu, saat kami masih tinggal di Depok.

"Malu banget. Tak meyangka dan tak terbayang kok bisa menulis seburuk dan se-alay itu," kata Aya menunjukkan perasaannya.

Syarrrifa mengiayakan kata-kata Aya. Lengkapnya dia bilang apa, aku lupa. Hehehe. Mereka berdua punya blog untuk menuliskan perasaan dan merekam kejadian sehari-hari yang mereka alami. Sekarang blog tersebut dibiarkan tak terurus, tak pernah diisi tulisan lagi. Lama sekali vakum. Wajar Aya 'terkejut' menemukannya dan mengingat kembali apa-apa yang pernah dia rasakan di masa lalu.

Aku tak setuju pendapat Aya dan Syarrifa yang menganggap tulisan lama sebagai karya memalukan. Bagiku sebaliknya. Cetusan perasaan atau rekaman kejadian masa lalu adalah salah satu 
harta tak ternilai yang bisa dimiliki seseorang.

Dalam tiap detik hidup kita, begitu banyak kejadian yang kita alami, begitu beragam perasaan kita dalam menanggapi, begitu berwana emosi yang menyertai. Bagiku, semua itu adalah harta. Sebagian orang boleh menganggapnya tak ada, sesuatu yang terjadi hanya untuk dilupakan, sesuatu yang tak cukup berharga untuk diingat, apalagi diabadikan lewat tulisan, hal-hal yang akan berlalu begitu saja seiring berlalunya waktu.

Bagiku kesan pertama terhadap kejadian pertama yang kita alami ibarat ikan yang terpancing kail, yang bila tak segera disimpan dalam wadah, apalagi dibiarkan meloncat kembali ke air, kemungkinan besar akan lenyap dan tak mungkin kembali.

Itulah mengapa aku sangat menghargai kesan pertama terhadap sesuatu hal. Saat memperoleh laptop baru. Saat berkunjung ke suatu kota yang belum pernah kia kunjungi. Pengalaman pertama naik kereta tebu di museum gula. Pengalaman pertama naik truk. Saat merasakan salju pertama. Atau merasakan dingin Bromo kali pertama. Perasaan-perasaan atau kesan-kesan yang tercipta pada pengalaman pertama itu begitu sayang untuk tidak direkam. Harus segera dituliskan. Kali lain, kali kedua, ketiga, keempat, mengalami hal yang sama, kesan pertama tak akan pernah muncul kembali. Seperti ikan yang lepas di air. Susah dan barangkali tak akan pernah muncul kembali lagi.

Jadi, tak ada tulisan yang memalukan. Tak ada kenangan yang tak berkesan. Yang ada adalah keabadian bila semuanya bisa kita tuliskan. Walau sekedar di blog seperti ini. Ayok menulis. Ayok merekam.

#SehariSejudul 

Friday, 12 July 2019

Target Terlewat

Kemarin tak ada tulisan seri #SehariSejudul yang muncul di blog ini. Aku gagal memenuhi target. Bukan tidak ada bahan, tetapi kemarin aku sibuk sekali bahkan sejak pagi buta. Tak ada kesempatan duduk menulis.

Dari kejadian kemarin, aku mendapatkan pelajaran bahwa untuk mewujudkan komitmen menulis sehari satu judul blog, diperlukan strategi.

Strategi pertama adalah menulis pada jam-jam tertentu. Misal pagi-pagi sebelum memulai urusan lain atau malam hari sebelum tidur. Ini harus disiplin dan dibuat rutin. Bagaimana kalau ada ide bagus yang tiba-tiba muncul dan minta segera dituliskan? Ya kalau demikian, kalau bisa segera saja mengetik. Bagaimana kalau tidak ada komputer? Tuliskan ide tersebut, di buku, atau di mana yang bisa ditulisi, agar ide cemerlang tak hilang. Nanti bila sudah ada waktu dan ada komputer, ide akan jadi lebih mudah dituliskan. Minimal poin-poin pentingnya tak hilang atau terlupa.

Strategi kedua adalah tumbuhkan rasa bersalah bila ada hari yang terlewat tanpa menghasilkan satu tulisanpun. Komitmen menulis tiap hari harus dijaga dengan selalu mengingat bahwa tujuan menulis adalah membuat lancar mengetik dan menguraikan ide yang bila tidak dilakukan secara rutin maka akan menyebabkan sinkronisasi jari tangan dan pikiran terhalang atau tidak lancar.

Strategi ketiga adalah mengingat selalu kata-kata Pramudya Ananta Toer yang kira-kira berbunyi bahwa keabadian diperoleh dari menulis. Bila tak ditulis, maka semua cerita dan peristiwa akan hilang, lenyap tak berbekas. Bila tak menulis, kita tak punya bahan untuk dikenang generasi kemudian. Ingat itu baik-baik lalu pertebal dengan kata-kata bahwa menulis itu bikin ganteng. Wkwkwkwkw.

#SehariSejudul

Wednesday, 10 July 2019

Ringan Karena Gembira

Kemarin sore aku dan Aya kolaborasi menjemur pakaian. Mesin cuci sudah menyelesaikan tugasnya memutar, membilas, dan memeras pakaian. Tinggal jemur. Entah mengapa kali ini kerjaan malesin menjemur pakaian itu terasa ringan.

Aya menggunakan hanger untuk kaos, pakaian dalam, dan hem. Aku menghampar handuk dan selimut di tali jemuran. Kami bersenandung dan obrol-obrol.

Aku tak ingat apa yang kami obrolin. Yang jelas pekerjaan jemur pakaian terasa cepat selesai. Seperti tak terasa.

Malam harinya Aya mengkonfirmasi bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Mengerjakan tugas menjemur dengan gembira. Seperti tak melakukan apa-apa. Tak buang energi. Tak ada rasa malas. Rasanya semangat dan pekerjaan tuntas.

Usut punya usut, ternyata penyebabnya adalah karena kami baru saja mendapat berita gembira. Syarrifa, kakaknya Aya, lulus SBMPTN di perguruan tinggi yang diimpikan. Dapat jurusan yang memang diingin-inginkan juga.

Senangnya Syarrifa menular ke kami sekeluarga. Dunia terasa cerah. Hati gembira. Bahkan tak ingat hutang, hahaha ...

Ternyata bila hati gembira, pekerjaan jadi terasa ringan. Pingin sering-sering terima berita gembira deh hehehe.

#SehariSejudul

Tuesday, 9 July 2019

Sehari Sejudul

Menulis itu menyenangkan. Hati terasa plong saat berhasil menuangkan suatu ide secara runtun dan tuntas dalam satu judul. 

Runtun berarti pembaca dapat memahami ide yang kita tuliskan melalui struktur sajian yang bisa diikuti, tidak kacau balau. Tuntas artinya ide tersaji secara lengkap mulai dari pokok masalah sampai solusi yang ditawarkan. 

Bolehlah kurang sana kurang sini, tetapi secara umum, tulisan dapat kita nilai selesai. Tak ada yang menggantung atau terasa belum dituliskan. Semua yang di kepala sudah tertuang. Itu sudah menyenangkan.

Menulis akan terasa lebih menyenangkan lagi saat berhasil menekan tombol PUBLISH dan merasakan tulisan sudah mulai berlayar di dunianya, siap dibaca siapapun yang kebetulan menemukan. Berapa yang baca, apa tanggapan pembaca, tak begitu penting.

Itu dia dua hal yang aku pribadi anggap sebagai kriteria keberhasilan menulis. Menyelesaikan tulisan dan melepaskannya ke sidang pembaca. Sudah cukup menjadi reward bagiku untuk merasa senang dan berbahagia sendiri. 

Well .. Baris-baris di atas kok terasa begitu formal dan kaku ya. Hahaha. Tak mengapa .. Sudah tertulis dan selesai., itu sudah menyenangkan. Bayangkan kalau tiba-tiba listrik mati, ketiga paragraf di atas hilang (walau Blogspot sudah mengantisipasi dengan autosave), maka tak akan mudah bagi otak tua ini untuk mengulang apa yang sudah tertulis. Jadi, aku punya segudang alasan untuk merasa happy

Itu pertama. 

Yang kedua? Karena aku sudah membuka blog ini dan mulai menulis lagi. Tulisan terakhir tertanggal 16 Agustus 2016. Hampir 3 tahun lalu. Sayang kalau blog yang aku piara sejak 2008 ini dibiarkan merana, tak pernah dikunjungi apalagi dihiasi dengan tulisan. Aku senang hari ini aku berencana mulai menulis lagi dan sudah aku wujudkan dengan satu judul ini. Hehehe.

Oh iya, mengapa judulnya Sehari Sejudul? Karena itu sebenarnya menggambarkan keinginanku untuk menulis blog paling tidak satu judul sehari. Tentang apa saja. Serius dan tak serius. Opini maupun fakta. Jelek atau bagus. Tak masalah. Sepanjang sebuah judul selesai, lalu klik PUBLISH, maka rasa bahagia atau senangku akan dobel-dobel.

Muuuu .... laiiiii #SehariSejudul

Friday, 19 August 2016

Facebook. Tolol. Salah Sendiri

"Mas, komen lo gk penting amat, apa hubungan dengan Opa Ferguson, ha ha ha .. Tolol!" kata seorang pemilik akun tak punya wajah (blank) menanggapi komentarku yang mengomentari sebuah status di sebuah grup Facebook.

Kemarin, saat aku tulis komentar, aku sudah menduga akan ada kemungkinan salah tafsir dan salah duga atau salah tanggap tentang apa yang aku tulis.

Bagaimana tidak, aku sedang menggunakan bahasa dan jenis guyonan yang selama ini dianggap biasa saja, bahkan dinikmati, di grup Facebook lain yang aku ikuti.

Aku paksakan tetap nulis dengan tujuan membuktikan asumsi bahwa akan ada yang menanggapi 'beda.' Dan aku benar.

Hari ini terbukti. Seorang komentator, entah siapa, aku gak kenal, menulis komentar seperti dalam awal tulisan ini. Dalam pandanganku, komentar di atas sangat melukai dan tak sopan.

***

Begitulah Facebook atau media sosial lainnya. Sebuah media yang menggabungkan berjuta orang dengan berjuta latar belakang, berjuta kondisi fisik dan kejiwaan, berjuta minat, dan berjuta-juta perbedaan lainnya. Semua dikumpulkan jadi satu dalam forum status Facebook.

Apa nggak runyam kalau demikian? Tentu saja iya, apalagi bila dalam menulis status atau komentar kita tak berhati-hati atau tak ingat bahwa kita sedang muncul dalam suatu medan belantara dengan riuh rendah perbedaan dengan dengan kemungkinan adanya multi-tafsir yang sangat-sangat multi. Hahaha.

Hati-hati dalam menulis status atau komentar bila tak ingin repot.

***

Untung aku sedang bijaksana. Komentar di atas aku jawab dengan santun, minta maaf atas tidak perkenannya. Aku jelaskan bahwa aku sedang guyon. Dia menanggapi positif.

Tentu jawaban komentator tadi beda bila aku jawab, "Ah elo .. kayak kurang pikinik saja."

Pasar. Passion. Langganan

Kadang aku tak berselera menawar. Berapapaun harga yang disebutkan pedagang, sejumlah itu pula yang aku berikan. Tak ada minat. tak ada tenaga. Bayar lalu pergi. Tak peduli berapapun harganya.

Hari ini pun begitu. Aku beli pisang kepok, di Pasar Damar. Kukeluarkan duit, 12 ribu. Si ibu pedagang, aku sering beli padanya, memberikan satu sisir. Aku tak tertarik bersendagurau seperti biasanya. Pisang berpindah tangan. Aku berlalu. Tak ada passion.

Waktu beli sawi sendok, aku merasa tenaga cuma cukup buat ambil seikat. Aku kasikan duit 10 ribu kepada si mas pedagang, juga langganan, lalu nunggu kembalian.

Dia menyapa, 'Kok cuma satu ikat?" Aku jawab, "Ngapain beli dua ikat?" sambil berlalu setelah menerima kembalian. Tak tertarik obral obrol.

Kadang ke pasar seperti itu. Mungkin karena terdorong ingin cepat kembali ke rumah. Toh belanjaan tak banyak. Hari ini aku cuma beli pisang kepok, persiapan ada teman mau datang nanti sore, lalu sawi sendok dan nanas buat bikin jus detox usus, plus kantong plastik sampah harga 5 ribu dan sebendel plastik buat bungkus sambal atau mayonaise bekal anak-anak sekolah.

Oh iya, tadi aku juga beli bawang putih, Seperapat. Aku kasi 10 ribu. Aku agak kaget ketika si ibu pedagang, bukan langganan, mengembalikan 2 ribu. Aku tak menduga bawang putih 'rasanya' mahal. Tapi aku tidak peduli. Sedang tidak peduli. Berapapun harga, aku bayar. Pingin cepat berlalu. Di rumah sepertinya ada banyak bacaan sdang menunggu.

Proses beli semua itu cuma makan waktu tak lebih 10 menit. Tak pakai milih-milih. Tempat beli juga sudah kebayang. Sebagian adalah langganan. Prosesnya cepat. Apalagi lagi tak ada minat berlama-lama.

Hari ini belanja tanpa passion.

Di hari lain, aku kadang nyinyir dengan harga. Tetap lebih suka beli di langganan, tetapi aku akan tawar sampai detail, terutama bila beli pisang kepok. Entah kenapa. Tetapi aku merasa bila tak menawar, si ibu langganan itu suka kasi harga tinggi. Hehehe.

Wah aku jadi ingat. Perlu diceritakan di sini, Bahwa ternyata aku beli kebutuhan dapur di pedagang yang itu-itu saja. Di pasar Damar dekat rumah, aku punya sekitar 5 atau 6 pedagang 'langganan.'

Beli sayur kangkung, tomat, wortel, brokoli, dan pisang susu di mas pedagang. Aku tak pernah tahu namanya. Tetapi aku rasa dia selalu kasi harga murah. The best pedagang.

Beli pisang kepok di ibu tua yang aku ceritakan di atas. Dia suka pakai kain penutup rambut, bukan jilbab. Tadi waktu aku bilang tak ada pisang yang bagus, dia menimpali begini, "Pisang gak bagus, tapi yang beli bagus." Seneng juga rasanya dipuji. Walau aku tahu, aku sudah tak mandi 2 hari, sikat gigi terakhir baru semalam saja, hahaha, pakai pakaian awut-awutan dan kumis cambang tak disentuh cukuran selama 4 hari terakhir.

Untuk buah, aku tak begitu suka ketiga pedagang tempat aku TERPAKSA beli. Yang satu tak banyak bicara. Terkesan angkuh. Yang satu banyak bicara. Tetapi suka kasi harga mahal. Nanas 3 ribu dia jual ke aku 5 ribu. Karena aku tak tahu, aku bayar juga. Setelah tahu, aku putuskan tak akan pernah beli lagi ke dia. Satu lagi, pedagang buah, ibu jilbab di pojok pintu masuk pasar. Dia tak banyak bicara, tetapi juga tak diam-diam amat. Suka senyum, tetapi aku merasa dia pelit. Secara khusus, aku belum punya preference untuk tempat beli buah.

Untuk ikan, aku suka beli ke ibu yang dari dandanannya, aku fikir dia bukan muslim. Rasanya dia tak ada sifat tipu-tipu. Aku lebih nyaman beli padanya ketimbang ibu-ibu pedagang ikan lainnya. Ada satu pedagang ikan asap. Entah kenapa, aku selalu janji pada diriku untuk tidak akan beli padanya. Tetapi sesekali kalo aku perlu, aku selalu mampir padanya. Beli cepat-cepat. Tak pingin mengenalnya. Aku tak begitu nyaman dengannya. Tapi mebngapa selalu beli padanya? Padahal di sampingnya ada pedagang ikan asap lain. Hmm. Ntar aku pikir kenapa.

Ayam? Ada seorang ibu yang paling bagus kualitas jualannya di antara para pedagang ayam lainnya. Kadang aku juga beli daging sapi sama dia. Suaminya di sebelah yang jualan.

Apa lagi yaa? Plastik .. iya .. aku suka beli hanya ke toko yang satu itu. Tak ke tempat lain. Kerupuk, aku ada langganan, tetapi nampaknya si ibu muda itu agak genit. Suka mainan android. Kalau tak terpaksa, aku tak beli padanya.

Oh iya, beras. Aku ada langgaan baru. Berasnya cocok. Harum dan segar. Sebenarnya sebelumnya aku beli di pedagang lain berjarak 3 toko. Tetapi entah kenapa aku lama-lama gak nyaman sama pedagang sebelumnya. Setiap aku lewat di depannya, atau agak jauh dan dia melihat, dia selalu menyapa, "Bos mau beli apa." Aku merasa risih. Lama-lama aku tak beli beras dan telur sama dia. Aku beli di langganan baru saja. Tentu dengan sembunyi-sembunyi, supaya dia tak melihat aku beli tidak di tempatnya.

Hehehe .. nulis apa ini .. Wkwkwkw .. Namanya saja nulis apa-apa yang terlintas.

Kopi dan Pisang Goreng

Hidup nikmat yang masih belum aku rasakan membosankan adalah hidup yang dimulai dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng. Tetapi ada syaratnya lho .. Dibikinkan oleh Bi Sar .. Hehehe

Beda lho kalau bikin sendiri. Pertama rasa (terutama) pisang goreng tak dijamin enak kalau aku bikin sendiri. Kalau kopi sih tak masalah. Dan, ini alasan yang kedua, saat menunggu kopi dan pisang goreng siap, aku bisa ngetik blog seperti yang aku lakukan saat ini. Sedap bukan?

Hidup yang nikmat adalah yang setelah kopi dan pisang goreng siap, lalu dilanjutkan dengan memulai mencicil pekerjaan. Pekerjaan apa? Pekerjaan yang jelas (bukan tak jelas), artinya yang aku tahu apa yang harus aku kerjakan, aku punya gambaran mana yang akan aku kerjakan terlebih dahulu, dan yang paling penting aku senang melakukannya. Di sini pekerjaan bukan selalu berarti ada duitnya, karena sebagian besar pekerjaanku saat ini adalah tak menghasilkan duit. Hahahaha.

Ambil contoh, revitalisasi website Mukena Indonesia, kegiatan sosial cuci muekan gratis yang selama 6 tahun terakhir ini aku komandoi. Aku paham apa yang aku butuhkan untuk mengerjakan website tersebut. Teks apa yang aku perlukan. Image apa yang aku akan pakai. Struktur web seperti apa yang aku inginkan. Semuanya jelas. Asyik mengerjakan semuanya. Cuma memamng butuh waktu dan kesabaran saja. Kadang kalo lagi 'gak sehat' ya kerjaannya tak maju-maju.

Contoh lain adalah mempelajari semua dokumen yang bisa aku kumpulkan, online maupun offline, tentang sebuah hal yang aku tertantang untuk menguasainya. Aku pelajari semua hal terkait. Aku baca semua yang bisa aku baca. Lalu aku susun rencana bagaimana aku akan mengerjakan semua tugas terkait, aku rancang presentasi untuk menjelaskan apa yang ingin aku jelaskan. Semuanya asyik. Bisa nambah ilmu baru. dan berharap pekerjaan tersebut suatu saat akan mendatangkan uang.

Aku juga sedang berencana nulis buku. Bagaimana aku akan menulisnya sudah terancang dalam benak. Aku merasa bisa mengerjakannya. Cuma belum mulai aja kok. Hehehe.

Hidup ini nikmat. Bila mengerjakan hal-hal yang kita suka, mengerjakan apa yang kita bisa, mengerjakannya tanpa merasa ada yang kejar-kejar, dan tentu saja bila dimulai dengan atau sambil menikmati kopi dan pisang goreng.

BTW: ternyata pisang goreng tak ada pagi ini. Pisangnya belum beli ..

Kaboorrr ke pasar bentar aahhh ...

Wednesday, 17 August 2016

Hidup itu Memilih

Aku yakin tak ada seorangpun suka hidup menderita, jiwa tertekan, langkah tak bebas, badan diikat banyak hal yang melilit.

Dikejar deadline itu, apapun jenisnya, tidak menyenangkan. Kalau salah menyikapi, bisa bikin serangan jantung.

Tenggat pekerjaan. Harus jadi besok untuk presentasi di depan tim yang memberi pekerjaan. Sementara itu, teman yang diharap menyediakan bahan presentasi tidak kunjung muncul. Tidur jadi tak jenak. Bangun juga tak tahu apa yang dikerjakan. Itu tak menyenangkan.

Bagaimana dengan lilitan hutang? Sama saja.

Aku ada teman yang setiap akhir minggu 'menderita' karena kewajiban membayar para tukang yang mengerjakan proyek konstruksinya. Bersama teman ini, aku juga terlilit hutang di sebuah koperasi, gak dink, gak cuma satu, tapi BEBERAPA ... hahaha .. apa gak bikin kepala pening bila tiap akhir bulan ditelpon bahkan didatangi penagih hutang? Hidup terasa berjalan di jalan tol. Tak aman, Tiap saat bisa disambar mobil yang lari kencang.

Alangkah indahnya hidup bebas. Tak ada yang kejar-kejar. Tak ada yang memerintah. Tak ada yang menyalahkan. Tak ada yang memarahi atau memaki. Tak ada rasa takut. Tak ada rasa khawatir. Desau angin terasa nyaman di pendengaran. Semilir udara sejuk pegunungan terasa nikmat hingga ke rongga dada. Adem tenterem. Terpaan mentari terasa hangat di kulit. Semua enak.

Sayangnya, hidup tak selalu enak. Tak selalu bebas.

Sayangnya lagi, enak atau tidak, bebas atau tidak, nyaman atau tidak, ternyata pilihan diri sendiri.

Kita sendiri kok yang memilih berhutang. Coba dulu tidak meneken kontrak kredit dengan debitur.

Kita sendiri kok yang memilih mengambil pekerjaan yang tidak kita kuasai, yang kemudian harus tergantung pada orang lain, lalu muring-muring saat teman yang diharap tak bisa diharapkan.

Kita sendiri kok yang memilih jalan berduri.

Kita sendiri kok memilih berteman dengan orang-orang yang selalu berfikiran negatif.

Kita sendiri kok yang memilih semua itu.

Mengapa kita tidak pilih hidup tanpa hutang? Sehingga tak harus menderita dikejar penagih?

Mengapa kita tidak pilih jalan halus? Mengapa harus pilih jalan terjal?

Mengapa kita tak pilih hidup secukupnya, supaya tak harus susah payah memenuhi kebutuhan hidup neko-neko?

Mengapa kita tak pilih baca buku-buku yang mengajarkan kesejukan? Supaya hati tenang dan tenteram?

Hidup ternyata memilih. Memilih tenang atau tidak tenang. Terserah masing-masing deh.

Tuesday, 2 August 2016

Jakarta oh Jakarta

Aku selalu suka perjalanan ke Jakarta yang tak lama-lama. Artinya, kalau bisa .. datang pagi, selesaikan tugas, lalu sore atau malam balik ke Semarang. Pola seperti itu yang beberapa kali terakhir aku alami. Entah kenapa, tetapi Jakarta tak lagi (atau belum lagi) bisa bikin aku nyaman.

Tak nyaman seperti apa?

Mungkin karena di Jakarta aku sudah tak punya engagement - keterikatan dengan seseorang, sekelompok orang, suatu organisasi, program, atau apa saja, sebuah keterikatan yang bersifat rutin, sehari-hari, dalam bentuk pekerjaan permanen.

Jadi, ke Jakarta itu seperti pergi ke kota asing. Sekedar untuk menyelesaikan suatu misi. Sesudah misi berakhir, tak ada lagi yang ditunggu. Pulang ke Semarang adalah pilihan terbaik.

Mungkin karena aku selalu tak punya uang lebih bila ke Jakarta. Hanya cukup ongkos dan bekal sekali dua kali makan. Ada ketakutan bila aku berlama-lama di Jakarta, aku tak akan bisa makan. Tak ada teman tempat mampir makan. Saudara jauuh di bagian selatan kota, padahal seringkali aktifitas yang aku tuju adanya di bagian tengah atau utara. Pulang ke Semarang adalah jaminan sampai di rumah dan ada nasi di mejikjer.

Itu mungkin satu dua alasan mengapa aku tak bisa atau tepatnya prefer not to berlama-lama di Jakarta. Eh . jadi ingat, mungkin salah satu alasan lain adalah karena dua bontotku, dua cewek ABG Ifa dan Aya, adanya di Semarang. Tak jenak meninggalkan mereka berlama-lama, tak ada yang urus makan dan antar jemput sekolah mereka. I don't feel comfortable to be far from home.

Entahlah. Tapi memang yang aku ingat, beberapa perjalanan terakhir ke Jakarta, aku hanya habiskan waktu tak lebih dari 12 jam.

Contoh terakhir, beberapa minggu lalu, aku tiba di Jakarta, di Terminal Bis Rawamangun sekitar jam 4.30 pagi. Kali ini aku naik bis karena paling murah dibanding kereta apalagi pesawat.

Setelah sholat subuh di masjid samping terminal, aku naik taksi ke Komplek Duta Merlin. Sesampai di sana, tentu saja kantor yang aku tuju belum buka. Maka aku habiskan waktu berkeha-leha baca buku di musholla pojok parkiran komplek perkantoran terkenal ini.

Jam 8 pagi aku masuk ke kantor yang dituju. Urusan selesai tak lebih dari 15 menit. Lalu aku naik ojek ke Gambir. Tujuan mau ke airport pakai DAMRI. Biar hemaaat. Hehe. Karena masih banyak waktu, pesawat ke Surabaya jam 2.40, aku ngopi dulu di Dunkin, tempat aku HAMPIR SELALU mampir bila lewat Gambir.

Selesai ngopi, aku naik bus khusus ke airport dengan ongkos (hmm.. berapa yaa) mungkin 30 ribu. Iih aku lupa berapa hehehe. Sejam kemudian sampai di airport. Nunggu pesawat. Dan terbang ke Surabaya.

Tak sampai 12 jam di Jakarta, bukan? Selepas Jakarta (batasnya, pesawat mengudara), aku merasa nyaman .. Iya SELEPAS .. seperti terlepas dari sesuatu yang mengikat. Ah .. tak tahulah ..

Rizki Tak Selalu Berbentuk uang

"Alhamdulillah. Inilah rizki," kata Pak Cipto sembari menyeruput teh hangat manisnya.

"Makan tak berpantang adalah salah satu bentuk rizki,'" lanjut Pak Cipto sambil meraih toples kerupuk, mengambil satu rempeyek dan menikmatinya.

Pagi menjelang siang. Aku dan Pak Cipto, teman di Blazer Indonesia Club - Semarang, sedang berada di sebuah warung soto di jalan Wolter Monginsidi.

Beberapa saat sebelumnya Pak Cipto hampiri aku di bengkel langganan kami, Mas Adi Zero, di jalan Arteri Soekarno Hatta. Mobilku sedang diperbaiki.

Per telpon sebelumnya, aku janji akan ke rumah Pak Cipto di Tanah Mas, buat ngobrol ngopi-ngopi. Tetapi karena mobilku ternyata perlu waktu lama untuk pasang kembali dinamo starter yang baru saja diperbaiki (ganti laher dan merapikan yang tak rapi), Pak Cipto menawarkan dia yang datang. Dia datang bawa X-Trail hitamnya yang nyaman.

***

Kami duduk berhadapan di salah satu dari dua meja yang tersedia di warung soto. Ada tulisan garang asem. Tetapi kata si ibu pemilik warung, garang asem sudah habis.

"Hari ini cuma bikin sepuluh porsi, dan sudah diborong oleh salah satu langganan," jelas pemilik warung yang nampaknya senang obrol dengan pelanggannya. Ada juga lho pemilik warung yang tak bersuara sedikitpun sampai pelanggan pergi setelah bayar makan.

Aku dan Pak Cipto lalu pesan soto.

Aku lupa bilang pisah, artinya nasi dan soto disajikan dalam dua mangkuk berbeda. Tapi tak apa. Kami menikmati soto sampai sendok terakhir lalu pesan satu tambahan teh hangat manis. Manis lho ..

Beberapa teman kami sudah tak minum teh manis.

Kalau pesan makan di warung, mereka akan bilang, "Teh tawar." Kuatir sakit ini dan itu gara-gara kabanyakan gula.

Jadi, cukup beralasan bila Pak Cipto bilang kami harus bersyukur atas rizki yang dilimpahkan Tuhan hari ini, makan tak harus berpantang, dan masih tak masalah dengan teh manis. :D

Begitulah rizki. Ada banyak bentuk rizki bila kita mampu melihatnya. Tak harus dalam bentuk uang.

"Bahkan kesempatan bertemu inipun juga adalah rizki," kata Pak Cipto.

Iya .. Sudah beberapa bulan bahkan sebelum puasa Juli lalu, kami belum pernah ketemu fisik. Ketemunya hanya virtual, di group WhatsApp.

Terimakasih Ya Allah. Sudah mengingatkan akan berbagai rizki dariMu.

Monday, 25 July 2016

Pingin Jalan-Jalan Naik Kapal

Aku pingin jalan-jalan. Kali ini sepertinya akan pakai kapal laut. Mestinya naik kapal laut bisa lebih menarik karena merupakan pengalaman jarang-jarang.

Naik bis malam sudah biasa. Kereta dan pesawat juga. Sudah tak menarik. Malah kadang takut. Kecelakaan bis sering terjadi. Masalah pesawat terbang seperti mengintai, apalagi mendengar bahwa rating keamanan perusahaan penerbangan tanah air tak ada yang bagus. Naik bisa tak tenang. Pesawat bikin deg-degan. Kereta masih lebih baik. Tapi kadang bosan.

Aku pingin jalan-jalan pakai kapal laut ke pulau pulau yang tak terjangkau layanan kereta api dari Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dll.

Pengalamanku naik kapal (kalau ferry bisa disebut kapal) hanya sekitar Jawa-Bali-Lombok. Lewat Ketapang - Gilimanuk atau Padang Bai - Lembar bolak balik, sudah lama banget, lebih dari 20 tahun lalu ketika masih mahasiswa di Jogja dan kalau mau pulang ke Lombok.

Pernah sih .. sekitar dua atau tiga tahun lalu nyebrang pakai ferry ke Bali. Rasanya memang agak beda (walau tak beda jauh) dengan apa yang tersimpan di memoriku tentang proses penyeberangan ferry, turun naik bis malam, berdiri di geladak, suara musik dangdut yang diputar keras di kabin penumpang, lalu aroma pop mie dan kopi yang dipesan penumpang, juga kebosanan dan tak kepedulian awak ferry (mereka nyebrangkan orang bolak balik tiap hari - mungkin capek juga), lalu kerasnya pluit kapal, riak air selat, dan tentunya matahari terbit plus hangat sinarnya menerpa kulit.

Aku ingin jalan jalan naik kapal. Iya .. kapal beneran. Bukan ferry penyeberangan. Mestinya nuansa dan rasanya berbeda. Di kapal jarak jauh pasti lebih banyak orang. Lebih banyak polah tingkah manusia yang bisa dilihat. Lebih banyak hal terkait administrasi dan pengaturan persiapan keberangkatan dan kedatangan plus kesibukan di dalam kapal yang bisa diamati. Sepertinya dinamikanya banyak.

Mungkin akan menarik berangkat dari Tanjung Emas Semarang ke salah satu pelabuhan di Kalimantan, nginap semalam, jalan-jalan pakai motor keliling kota seharian, lalu pulang lagi ke Semarang. Pakai kapal lagi. Kalau bisa pakai kapal lain. Supaya pengalamannya beragam.

Banyak pelabuhan di Sulawesi atau pulau-pulau di sekitaran Maluku. Bahkan di Papua dan Nusa Tenggara yang juga bisa disinggahi. Banyak lagi di Sumatera.

Melihat pelabuhan dan kita atau desa sekitar pelabuhan adalah hal yang menyenangkan. Bisa mengamati perilaku orang, cara berpakaian, arsitektur rumah atau bangunan lain. Model angkutan kota juga pasti beragam. Bisa mendengar suara mereka berbahasa Indonesia atau bahasa lokal, mencermati apa yang mereka obrolkan. Bisa membaui pasar, mencoba kopi warung, dll. Banyak hal menarik bisa dilakukan.

Mengapa harus pakai kapal? Selain karena alasan-alasan di atas, mungkin karena harga tiket relatif masih murah. Mungkin cukup sekitar 1 juta saja sudah bisa pergi pulang, nginap di losmen seadanya, makan murah, sewa motor buat keliling kemana saja. Keinginan jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi bisa tercapai.

Thursday, 14 July 2016

Yuk Berhemat

Selesai mengosongkan kandung kemih, dengan perasaan lega aku tekan tombol guyuran air di bagian atas peturasan porselen. Byuuuuuuuurrr .. Air mengalir keluar. Banyak sekali. Iya, banyak sekali. Bahkan mungkin terlalu berlebihan buat sekedar menggelontor sedikit sisa air kencing di lubang peturasan.

Aku kaget. Tak menduga air keluar sebanyak itu. Tetapi ku akui, ada rasa senang. Senang lihat air banyak. Bukankah air banyak bisa membersihkan bekas kencing dengan tuntas? Hasilnya memang beda. Peturasan kempling. Udara ruangan relatif lebih segar. Beda jauuh dengan aroma tempat kencing di pom bensin atau masjid sekalipun.

Aku bergeser ke wastafel. Mau cuci tangan. Kaget kedua muncul. Biasanya kalau buka keran, air mengalir malas. Tapi di sini, air keluar deras sekali. Tak berhenti kalau aku tidak buru-buru menurunkan tuas keran. Air tersedia tak terbatas. Luar biasa. Lokasi: sebuah hotel berbintang di kawasan Solo Baru, Surakarta, Jawa Tengah.

Di airport atau di pusat-pusat perbelanjaan, aku sering temukan keran air model ditekan baru keluar air. Sesaat kemudian berhenti otomatis. Jumlah air yang keluar tak banyak. Tak memuaskan. Kadang sampai ada yang merasa perlu menekan keran beberapa kali untuk mengumpulkan lebih banyak air. Di sini, di hotel ini, air keluar seperti langsung dari sumber air dengan persediaan tak terbatas.

Aku merasa berdosa.

Mungkin kalau air bersih sebanyak itu adanya di mata air di kaki gunung atau di hulu sungai, aku tak seberapa kepikiran. Ini adanya di kota besar. Dari mana air bersih sebanyak itu? Mungkin dari Bengawan Solo? Bisa jadi. Tetapi untuk mengalirkannya ke hotel, pasti butuh pipa sangat panjang. Kalaupun pakai air PDAM, seberapa banyak debitnya? Bukankah PDAM juga perlu mengolah air sungai sedemikian rupa (dan biaya pasti mahal untuk menghasilkan air sebersih ini) untuk kemudian mengalirkannya ke hotel?

Aku merasa boros.

Aku ingat dulu sekitar 15 tahun lalu, aku berkunjung ke rumah teman di sebuah desa di Gunung Kidul - Yogyakarta yang terkenal sebagai daerah kurang air. Untuk wudlu, kami pakai air gentong dengan lubang keran sebesar pensil. Air mengalir sanat pelan. Dan sangat sedikit. Tetapi toh kami bisa wudlu dan tetap sah untuk sholat.

Dulu aku bilang pada diri, temanku ini pelit sekali. Bahkan mungkin karena pelit (atau hematnya itu) kemudian dia bisa nabung dan bikin rumah besar? Hahaha. Pelit atau bukan, temanku itu sangat menghargai air. Dia paham benar susahnya mengumpulkan air. Maka dari itu dia tak ingin boros air.

Aku juga ingat seorang teman Australia yang kebetulan sekamar denganku menginap di sebuah hotel di Kuningan - Jawa Barat, ketika kami ada pekerjaan di sana, sekitar 10 tahun lalu. Dia ajari aku tidak mengguyur toilet sebelum kami pipis sampai 10 kali. Dia bilang, air sangat mahal (mungkin pengalamannya di kampung halaman). Sekali pipis sekali guyur adalah pemborosan luar biasa baginya. Memang sih, kamar hotel kami jadi bau pesing. Hahaha. Tetapi jiwa hematnya itu patut dicatat.

Beberapa hari lalu aku lihat postingan di Facebook tentang sebuah peringatan bagi pengunjung restoran untuk mikir-mikir sebelum mengambil makanan. Intinya pengunjung diharapkan mengambil makanan secukupnya saja supaya tak ada yang tersisa. Restoran tersebut mengancam akan mendenda pengunjung bila ada makanan yang tidak dimakan.

Aku malu.

Kadang aku pakai air berlebih. Pakai listrik berlebih. Ambil makan kadang kebanyakan. Dan tak bisa aku habiskan. Kata tulisan di restoran, anda bisa beli, kamipun bisa beli. Tetapi pemborosan itu berat bagi negara. Iya .. tak hanya bagi negara, tetapi mungkin bagi kita semua sebagai bangsa. Karena sebenarnya sumber daya alam ini, apapun bentuknya, sebenarnya untuk kita bersama. Tak boleh ada yang memboroskannya walau mampu sekalipun.

Wednesday, 13 July 2016

Menulis. Menulis. Menulis.

Tak sekali kita baca tentang manfaat menulis sebagai pelepas stres. Sebagai terapi bagi pikiran. Bahkan jadi obat bagi jiwa yang sedang tak sehat. Kalau setuju menulis ada manfaat (walau ini tak berarti kita sedang stres atau tak sehat), nampaknya kita perlu segera ambil balpoin dan bloknot untuk menuangkan ide, atau hidupkan laptop untuk menulis di blog.

Mari menulis .. .

Aku tidak menyebut 'menulis status di Facebook' sebagai menulis bila tulisan tersebut hanya satu dua kalimat atau satu dua komentar tentang sesuatu hal yang di-repost atau share. Menurutku, satu dua paragraf di kolom status  Facebook masih belum mampu memenuhi keinginan membuat tulisan tuntas. Keculai memang selama ini Facebook difungsikan selayak blog di Blogspot atau Wordpress atau lain-lain, memanfaatkan kolom status atau fasilitas Note untuk menuangkan gagasan tentang sesuatu hal secara tuntas.

Aku juga tidak menyebut cuitan di Twitter sebagai menulis karena keterbatasan karakter yang dibolehkan dan Twitter tak cukup bila menginginkan menulis lengkap. Nampaknya Twitter diciptakan untuk maksud lain. Tidak seperti Blogspot atau Wordpress yang memang untuk 'menulis'.

Mari menulis .. .  Menulis di lembar-lembar buku catatan atau di halaman blog.

Menulis adalah masalah besar bila kita tak tahu mau menulis apa. Bila kita tak terlatih menuangkan fikiran ke dalam tulisan. Bila tak tahu tujuan menulis.

Kita tahu apa yang akan ditulis bila otak ada isinya. Untuk membuat otak berisi, tentu saja kita perlu mengisinya. Bisa dengan pengalaman, atau sekedar mengamati, melihat dan mendengar sesuatu. Cara lain adalah dengan membaca buku. Ya .. .baca buku yang banyak. Ada yang bilang, tulisan bagus datangnya dari bacaan yang bagus. Artinya kalau seseorang tak baca maka ia tak akan punya bahan untuk menulis

Bila tak terlatih menulis, maka menggoreskan pena atau mengetik keyboard akan terasa berat. Fikiran penuh dengan ide, tetapi tak tahu dari mana harus mulai menulis. Bila misalnya menulis sudah dimulai, bisa saja ada rasa tak puas karena tulisan tak memiliki struktur baik yang akan memudahkan pembaca paham. Atau mungkin kita tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mewakili ide tertentu dalam fikiran. Menulis jadi berat bila kita tak tahu cara menulis. Ada beberapa ilmu dasar menulis, misal ilmu tata bahasa, ilmu tanda baca, ilmu kosakata. Perlahan kemudian kita akan membangun keterampilan menulis yang lebih rumit, bila memang menulis itu rumit. Hahaha.

Bila bahan menulis ada, dorongan menulis juga besar, tetapi tetap saja kesulitan menulis, barangkali itu karena kita tak tahu apa tujuan menulis. Tujuan menulis bisa saja sekedar untuk bercerita, menuangkan fikiran, tak peduli enak atau tidak kalau dibaca orang. Menulis bisa saja untuk diri sendiri. Tak berharap dibaca orang apalagi untuk dikomentari. Ada juga yang menulis supaya mendapatkan komentar banyak. Menulis bisa juga untuk cari duit atau untuk menjadi bangga punya karya tulis. Semua itu adalah tujuan. Dengan memiliki tujuan menulis, maka tulisan akan punya arah.

Mari menulis ...

Menulis boleh saja bermanfaat untuk melepas stres, bikin rasa senang, jadi terapi atau obat, buat melepaskan beban. Tetapi untukbisa melakukannya, kita perlu tahu apa yang ingin kita tulis (punya bahan), lalu tahu cara menulis (keterampilan), dan punya alasan mengapa menulis (tujuan).

Mari menulis ...

Being Porductive is Enjoyable

Being productive is always enjoyable and can make you feel high. Kira-kira begitu. Makanya, perlu bagi kita untuk melakukan sesuatu, menyelesaikan sesuatu, walaupun kecil-kecil, untuk menciptakan rasa 'sudah melakukan sesuatu', kalau bisa dengan embel-embel sukses atau tuntas. Dengan cara itu, otak merasa senang, hati riang, dan siap mengerjakan atau menyelesaikan hal-hal lain, yang mungkin lebih besar.

Contoh hal-hal kecil yang bisa kita kerjakan 10-30 menit untuk menciptakan rasa sukses dan produktif, menghindarkan rasa tak berguna dan klumbrak-klumbruk * tak karuan.

1. Cuci piring sekalian membersihkan wastafel. Menyikat kotoran yang tak hilang sekedar dengan dilap.

2. Membersihkan lemari penyimpanan peralatan dapur, sekalian mencuci ulang, mengusir debu yang melekat di piring atau gelas atau peralatan masak yang lama tak dipakai.

3. Membersihkan tempat tidur, ganti seprei, ganti sarung bantal, sekalian jemur bantal bila ada matahari. Tak lupa tentunya menyapu kamar.

4. Mengelap frame lukisan atau foto yang tergantung di dinding, yang sudah lama tak tersentuh. Biasanya bagian atasnya banyak debu.

5. Senang dengan kamar mandi bersih? Yang lantainya tak licin, atau tak beraroma kamar mandi pesing? Membersihkan kamar mandi bisa dikerjakan 15 menit.

6. Instal ulang Windows supaya kinerja PC di rumah bisa cepat lagi. Hehehe. Bila berani dan bisa (punya pengetahun dan pengalaman), bongkar PC, bersihkan debu-debu yang melekat di kabel dan jeroan komputer, tak lupa dinding casing.

7. Sapu halaman atau potong rumput juga bisa sekalian olahraga bukan?

8. Pergi bawa motor atau mobil ke tempat cucian. Paling bagus cuci sendiri. Bisa lebih detail dan bikin puas.

Ada banyak lagi hal-hal kecil lain yang bila kita kerjakan sendiri akan membuat kita merasa berguna, produktif, dan senang. Hati gembira akan bikin dunia terlihat terang dan kita menjadi siap untuk tantangan berikutnya.

*Klumbrak klumbruk adalah bahasa yang aku kenal di Semarang yang mewakili kondisi seseorang sedang merasa malas, bingung tak tahu berbuat apa, lalu berdiam diri tiduran di atas sofa atau tikar, mainan HP atau menghidupkan TV tapi tak menontonyya, otak jutek dan tumpul, dll.

Ide Muncul. Segera Rekam

Pagi ini, aku ada punya setidaknya dua ide tulisan untuk blog ini. Ide yang sangat cemerlang menurutku. Hehehe. Tadi, ketika ide itu muncul, alur tulisan sangat terang benderang. Bahkan kalimat pembuka dan paragraf pertama sudah terancang. Tinggal ditulis, lima belas menit sebuah judul pasti beres. Tetapi kenyataannya adalah yang sebaliknya. Ide tersebut hilang. Tak berbekas. Kucoba aduk-aduk kepala beruban ini, tak kutemukan. Ide-ide tersebut hilang. Entah kemana.

Aku ingat pepatah lama China ... Pensil pendek masih lebih panjang dari ingatan. Itu benar sekali. Coba saja tadi aku ingat untuk segera mencatat ide tersebut, minimal judul atau topiknya, dan kalau memungkinkan ide-ide yang akan mengisi outline, maka aku tak akan merasa sekosong ini, kehilangan ide. Coba saja aku cepat menemukan bolpoin, menuliskan di lembar kertas yang tertemukan, atau di papan whiteboard dengan spidol permanen sekalipun (kan ntar bisa dihapus - pakai odol, iya .. pasta gigi), maka ide tersebut tak akan lenyap.

Banyak guru menulis menyarankan untuk bawa catatan kemana pergi. Sebuah bloknot kecil dan sepotong pensil dalam saku atau tas. Maksudnya adalah untuk segera bisa menuliskan ide tulisan begitu muncul. Otak manusia bekerja sangat luar biasa. Begitu melihat atau mendengar atau membaui sesuatu hal, maka otak bekerja menyusun rencana, menyusun ide, berproses memproduksi sesuatu (not necessarily new and original, buat existing for sure) yang kemudian disimpan dan lenyap bila kapasitas mengingat rendah. Maka dari itu, catatan yang disarankan para guru menulis menjadi sangat relevan.

Ada juga saran untuk membawa rekaman. Misal memanfaatkan gadget atau smartphone yang kebetulan dibawa. Pasti ada sofware rekamannya bukan? Bagi orang yang cocok dengan metode ini, tak apa-apa. Pasti berguna. Tetapi bagiku, lebich cocok menulis diatas kertas. Mencoret dan membentuk jejaring ide dengan cepat, berpacu dengan ingatan yang berangsur menghilang atau menulis cepat ide-ode baru yang bermunculan sesaat setelah ide awal tertulis lalu terbaca lalu terproses (reconsidered, reevaluated, rethought) dalam fikiran, untuk bereproduksi kembali (brainstroming).

So, next time an idea happens to pop up in your mind, quickly grab something to write it down to avoid any regrets.

Tuesday, 12 July 2016

Dua Pelajaran Ramadan 1437 H

Walaupun Ramadan 1437 H (Juni-Juli 2016) sudah berlalu, dan rasanya tak meninggalkan pengaruh perbaikan fisik dan mental bagi diriku (ini sangat disayangkan), setidaknya aku ingat ada dua pelajaran yang tak sengaja aku terima.

Yang pertama muncul di awal Ramadan. Lagi putar radio. Cari-cari gelombang. Aku menangkap sepotong ceramah seorang ustadz di radio. Beliau sedang menjelaskan cara membedakan kebutuhan dengan keinginan, dua hal yang tak mampu aku bedakan. Kalaupun paham sedikit, pemahaman itu buat sendiri saja, tak pede dijelaskan kepada orang buat berbagi pengetahuan. Mendengar ceramah ustadz radio tersebut, aku merasa jadi tahu.

Begini penjelasannya (menurut ustadz radio lho).

Bayangkan kita sedang berpuasa. Sejam dua jam menjelang berbuka, kita sedang di jalan, OTW home, jadi pingin mampir beli makanan. Ada aneka ta'jil berupa makanan kecil dan minuman dijajakan di pinggir jalan. Ada buah segar, nanas dan pepaya. Ada Sprite dan Coca Cola dingin di Alfamart atau Indomaret. Ada nasi rendang, ikan goreng dan lele goreng plus sayur khan masakan padang. Ada pula nasi bebek goreng dan nasi ikan bakar, Karena punya duit, maka kita beli semuanya. Sesampai dirumah, semua makanan dan minuman ditata di meja makan. Begitu azan maghrib kedengaran, alhamdulillah, mulailah meneguk minumam dingin yang terasa nikmat sekali.

Sampai di situ, terasa betul kebenaran firman Allah SWT yang menjanjikan kenikmatan saat berbuka puasa bagi yang sedang puasa. Hati dipenuhi rasa damai. Tenggorokan sudah basah. Perut juga sudah terasa tenang. Rasa haus lenyap. Dan tiba-tiba perut tak terasa lapar lagi. Pandangan menyapu seluruh permukaan meja. Minuman dan makanan siap disantap. Mau diapakan semua yang belum tersentuh ini?

Keinginan adalah ingin menghabiskan semua makanan dan minuman di meja. Kebutuhan adalah kemampuan perut menampung. Mungkin satu gelas jus buah dan sepiring nasi plus sepotong lauk sudah cukup.

Monggo dipilih. Mau memenuhi keinginan atau mau memenuhi kebutuhan?

Pelajaran kedua yang aku terima muncul pada hari terakhir puasa Ramadan. Aku di Rumah Surabaya. Mudik. Hari ke 30 puasa itu aku bertekad memasang instalasi air dari pipa PAM ke seluruh tempat di dalam rumah. Aku perlu sambung pipa sepanjang 40 meter untuk membuat 5 mata keran. Di dapur. Kamar mandi (perlu dua). Tempat wudu dan tempat cuci pakaian.

Sejak bangun sekitar jam 2 pagi lalu sahur dan sholat subuh, aku tak bisa tidur lagi. Setelah menggambar instalasi dna merancang kebutuhan, sekitar jam 6.30 aku ke daerah Kapasan. Naik motor. Tujuan berburu keran, pipa, dan aneka peralatan di lapak-lapak loakan sepanjang Jalan Kapasari. Loakan tak ramai. Besok orang sudah lebaran. Sebagian besar penjual sudah pada pulang mestinya. Aku berhasil beli tang, gergaji, catut dan keran dengan harga jauh lebih murah dibanding di toko bangunan. Untuk beli pralon dll, aku perlu toko bangunan. Bersyukur masih ada satu yang buka di ujung Jalan Kapasan. Aku beli lima pralon dan peralatan lainnya.

Singkat cerita. Di tengah pekerjaan instalasi, aku harus keluar ke toko bangunan sekali lagi. Ada peralatan yang kurang. Panas terik. Naik motor. Kerja tak berhenti sampai menjelang buka puasa. Aku kehausan yang sangaaaat.

Buat buka puasa, secara khusus aku minta dibuatkan es buah. Sirup. Susu. Isi buah. Kasi es. Nikmat membayang. Dan itulah yang aku rasakan ketika azan magrib berkumandang. Aku minum sampai 5 gelas besar. Betul betul kesetanan. Rasanya ingin nambah dan nambah. Rasanya belum puas. Pingin lagi dan lagi. Setengah jam kemudian, setelah selesai sholat magrib, aku sakit perut. Rasanya melilit gak karuan. Ke kamar mandi sampai 5 kali. Aku lemas dan MALU. Gara-gara haus puasa, aku seperti kesetanan tak menahan diri. Malu jadi setan. Hahaha. Lupa kemampuan perut.

Selama puasa 29 hari sebelumnya, tak pernah aku alami sakit perut atau keluhan lain karena makan dan minum di Semarang hanya 'seadanya' - tak ada yang masak, dan kadang tak ada bahan (duit lagi cekak). Tetapi subhanallah, perut aman.

Di sini, pada hari terakhir puasa, aku puas puaskan minum. Hasilnya: Allah SWT memberikan pelajaran. Bahwa semestinya aku bisa menjinakkan hawa nafsu dengan latihan selama Ramadan 1437 H, ternyata gagal. Tak kira kira minum es buah plus susu sampai 5 gelas besar. Jadinya sakit perut. Untung dikasi obat sama Titia. Selepas Isya bisa baikan dan aku tertidur. Hahaha.

Aku jadi bertanya, kalau Allah SWT berkenan memberiku rizki berlimpah, bisakah aku menjaga amanah tersebut? Dikasi es buah berlimpah saja, minumnya tak pakai mikir. Coba kalau dikasi 5 milyar, mampukan aku menggunakan duit itu dengan baik? Belum tentu.

Nah itu dia dua pelajaran Ramadan 1437 H.

Setelah ini, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana aku bisa selalu mengingat pelajaran itu dan mempraktekkan hikmahnya untuk hari-hari yang akan datang? Bulan-bulan yang akan datang? Dalam puasa Ramadan selanjutnya (bila Allah SWT berkenan kasi umur panjang?)

Cemunguuudd .. Anda pasti bisaaaa .. :D